Senin, 21 November 2022

Cerita Silat Kho Ping Hoo : Jago Pedang Tak Bernama 3/5


Jago Pedang Tak Bernama
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 03

Ia minta Kim Kong Tianglo bersumpah untuk memenuhi permohonannya ini, dan sebagai seorang suci dan seorang sahabat baik, Hwesio ini tidak tega untuk menolak permintaan seorang yang telah berada diambang pintu kematiannya. Demikianlah, setelah mengubur jenazah Liu Pa San baik-baik, Kim Kong Tianglo mencari rumah Liu Pa San. Ia sangat kecewa dan tidak senang melihat sikap janda Liu Pa San yaitu Hun Gwat Go, tapi setelah melihat Cin Eng, Cin Han dan Cin Lan, timbul kegembiraannya karena Cin Eng merupakan seorang gadis yang baik hati, sedangkan Cin Han dan Cin Lan mempunyai bakat baik. Semenjak itu ia tinggal di rumah itu untuk memenuhi permintaan mendiang sahabatnya. Rencananya, setelah mendidik Cin Eng beberapa lama, maka gadis itu akan dapat mewakilkan ia mendidik kedua adiknya.

"Sute", berkata Kim Kong Tianglo setelah sudah selesai bercerita, "Umur berapakah kau sekarang?" tiba-tiba saja pertanyaan ini hingga Bu Beng memandang suhengnya dngan heran karena tidak mengerti maksudnya. Tapi ia menjawab juga.

"Dua puluh enam tahun, suheng. Ada apakah?" Kim Kong Tianglo tertawa.

"Tidakkah kau pikir usia sedemikian itu sudah cukup untuk menjadi seorang suami?" Untuk sejenak Bu Beng memandang muka suhengnya, kemudian ia tunduk dan mukanya menjadi merah. Kim Kong Tianglo tertawa geli melihat laku pemuda itu.

"Sebenarnya memang sukar mendapatkan jodoh yang sesuai, sute. Tapi percayalah, aku adalah seorang yang telah cukup pengalaman, dan menurut penglihatanku, Cin Eng adalah seorang gadis yang baik sekali, baik mengenai rupa dan tabiatnya maupun mengenai ilmu silatnya. Bagaimana pikiranmu sute, kalau aku berlaku lancing menjadi wakilmu untuk mengajukan lamaran?" Dengan masih tunduk dan hati berdebar-debar Bu Beng berkata.

"Suheng, beribu terima kasih kuhaturkan untuk budi kecintaanmu ini. Memang, bagiku di dunia ini setelah suhu meninggal dunia, hanya suhenglah yang menjadi orang tuaku, saudaraku dan juga guruku. Aku ini orang macam apakah untuk menampik seorang seperti nona Cin Eng itu? Tapi, yang menjadi persoalan ialah, sudikah dia atau ibunya menerima aku orang sebatang kara yang miskin dan hina dina ini menjadi suami dan mantu? Kalau sampai ditolak, aku akan merasa malu dan rendah sekali, suheng. Baiknya janganlah coba-coba, karena sembilan bagian pasti akan ditolak!" Kim Kong Tianglo berdiri dan menepuk-nepuk pundak sutenya.

"Jadi kau suka padanya? Baik, baik, sute. Soal yang lain serahkan saja padaku. Ketahuilah olehmu, Hun Gwat Go pernah menyatkan padaku bahwa ia dan gadisnya itu hanya ingin mndapatkan seorang yang berkepandaian melebihi si gadis sendiri dan melebihi ibunya pula! Dan sekarang kaulah orangnya! Tahukah kau mengapa Hun toanio mengundang kau mampir di rumahnya? Biasanya tidak sembarangan ia mengundang seseorang begitu saja. Tentu ada maksudnya. Ha, ha!" Bu Beng hanya menyerahkan saja urusan itu kepada suhengnya dan ketika Kim Kong Tianglo pergi kedalam untuk menjumpai Hun Gwat Go dan membicarakan urusan ini, ia hanya menanti di ruang tamu sambil saban-saban minum araknya untuk memenangkan hatinya yang bergoncang. Ia bangkit dengan segera dan berdebar-debar ketika tak lama kemudian suhengnya balik kembali bersama Hun Gwat Go dengan tersenyum girang.

"Selamat, sute. Kionghi, kionghi," kata Hwesio itu dengan gembira dan wajah berseri-seri. Bu Beng angkat tangan membalas ucapan selamat itu. Setelah Hun wat Go duduk diatas sebuah bangku, Kim Kong Tianglo segera berkata.

"Eh, sue, tunggu apa lagi? Hayo beri hormat kepada gakbomu." Dengan muka merah karena malu Bu Beng segera berlutut dan memberi hormat kepada calon ibu mertuanya yang diterima oleh Gwat Go dengan terkekeh-kekeh kegirangan.

"Ah, tercapai kini cita-citaku dan keinginan anakku Cin Eng, dapat seorang mantu yang gagah melebihi ayahnya." Sampai disini, tiba-tiba Gwat Go menangis tersedu-sedu dan air mata membasahi kedua pipinya yang kempot karena ia eringat suaminya yang telah mati.

"Kau... kau harus balaskan sakit hati ini..." katanya kepada Bu Beng yang hanya mengangguk sambil tundukkan kepala. Tiba-tiba kegembiraan Gwat Go timbul kembali, ia berkaok memanggil Cin Eng dan ketika gadis itu datang, Bu Beng segera tundukkan kepala lebih dalam dan tak berani berkutik. Cin Eng berdiri bingung karena melihat wajah ibunya dan gurunya Kim Kong Tianglo tampak berseri-seri gembira. Ia mengerling kearah Bu Beng dan bertambah keheranannya melihat pemuda itu tunduk saja dengan malu. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan diam-diam ia dapat menduga hingga tak terasa lagi warna merah menjalar keseluruh muka dan telinganya.

"Ada apa, ibu?" tanyanya.

"Eng, sediakan makanan lezat. Ini hari kita harus berpesta sepuasnya. Tambah lagi arak wangi kepada... gurumu... eh, sekarang kau tak boleh panggil guru lagi, tapi suheng dan beri hormat juga kepada calon suamimu," berkata demikian ini sambil menunjuk kepada Bu Beng yang makin berdebar dan duduk dengan serba tidak enak. Cin Eng yang biasanya sangat takut dan taat kepada ibunya, kini terpaksa membangkang.

Ia hanya memberi hormat kepada Kim Kong Tianglo saja, sedangkan kepada Bu Beng ketika ia telah berdiri dihadapan pemuda itu yang memandangnya dengan malu, tiba-tiba ia membalikkan tubuh dan lari masuk sambil gunakan kedua tangan menutupi mukanya! Gwat Go tertawa terkekeh-kekeh dan Kim Kong Tianglo tertawa tergelak-gelak hingga tinggal Bu Beng sendiri yang duduk diam dengan muka merah. Tak lama kemudian, meraka semua, tak ketinggalan Cin Han dan Cin Lan, menghadapi meja dan makan bersama. Cin Lan yang nakal tiada hentinya menggoda Cicinya, karena iapun sudah mendengar perihal pertunangan itu. Beberapa kali ia melirik kerah Cicinya dan mengejap-ngejapkan mata sambil menggunakan sumpit menuding kearah Bu Beng, hingga Cin Eng menjadi gemas dan mencubitnya. Cin Lan berteriak.

"Ah, ah, Cici nakal sekali, awas nanti kuberitahukan kepada cihu!" semua orang tertawa dan Cin Eng makin malu hingga sukar rasanya baginya untuk menelan makanan. Bu Beng juga hampir tak dapat makan karena malu. Sebenarnya didalam hatinya terbit dua macam perasaan pada saat itu. Rasa bahagia dan rasa sedih. Ia merasa girang dan berbahagia sekali karena di dalam hati ia cinta adan kagum kepada Cin Eng. Tapi karena teringat akan kedua orang tuanya yang telah tidak ada, ia menjadi sedih dan merasa bahwa ia benar-benar sebatang kara di dunia ini.

Menurut keputusan perundingan antara Gwat Go dan Kim Kong Tianglo, perkawinan akan dilangsungkan sebulan lagi, yaitu menanti sampai Cin Eng menghabikan mata perkabungannya atas kematian ayahnya. Pesta kecil itu berjalan dengan gembira sampai jauh malam dan berakhir dengan mabuknya Kim Kong Tianglo dan Gwat Go yang lalu pergi ke kamar masing-masing. Cin Han dan Cin Lan pergi tidur dan Cin Eng sibuk membersihkan sisa persta, sedangkan Bu Beng yang diharuskan tidusr bersama suhengnya, tidak pergi ke kamar itu tapi lalu keluar seorang diri membawa sulingnya. Ketika hendak keluar dari rumah itu ia bertemu dengan Cin Eng. Mereka saling pandang dan gadis itu tertunduk lebih dulu.

"Nona, kalau suheng mencariku tolong beritahu bahwa aku hendak pergi mencari hawa sejuk di hutan." Cin Eng hanya mengangguk tapi diam-diam ia mengerling karena mendengar suara Bu Beng yang terdengar parau seperti suara orang bersedih. Setelah tiba di hutan, Bu Beng jatuhkan diri diatas rumput hijau dengan hati sedih.

"Aku tak dapat kawin, tak mungkin..." keluhnya. Tapi tiada seorangpun mendengar keluhan itu, hanya angin malam saja berbisik diantara daun-daun seakan-akan menjawab keluhannya itu.

"Aku seorang diri di dunia ini, sebatang kara, miskin dan sengsara. Kalau Cin Eng menjadi isteriku, apakah ia juga harus hidup sengsara seperti aku? Ah, tidak, kasihan kalau ia hidup tak tentu tempat tingal seperti aku ini. pula, aku belum tahu siapa orang tuaku, dimana tempat makamnya dan belum dapat membalas sakit hati mereka. Beban yang sudah berat ini apakah hendak kutambah pula dengan merusak dan membikin sengsara gadis yang kucinta sepenuh jiwa ini? tidak tidak."

Bu Beng berdongak memandang Dewi Malam yang pada saat itu tengah tersenyum simpul diantara gulungan awan. Ia bangun dan duduk tanpa pedulikan pakaiannya yang menjadi basah karena ruput. Setelah duduk melamun beberapa lama, ia mencabut sulingnya dari ikat pinggang dan mulai meniup suling itu dalam lagu merayu dan sedih, Bu Beng memang ahli dalam main suling, ditambah pula perasaannya sedang perih oleh rasa duka, maka suara sulingnya menjadi halus dan penuh getaran jiwanya, seakan-akan merupakan jeritan bathinnya minta perlindungan dan pembelaan Tuhan. Tiba-tiba terdengar suara lemah dibelakangnya,

"Koko..." Bu Beng yang sedang tenggelam di dalam suara sulingnya yang dimainkan sepenuh jiwa dan hatinya, tak mndengar suara ini tapi terus menyuling dengan asyiknya. Lambat laun suara sulingnya merendah dan perlahan-lahan berhenti. Kedua lengannya terkulai dan sulingnya terpegang dalam tangan kanan yang gemetar.

"Koko..." suara ini terdengar halus dibarengi isak. Bu Beng segera sadar dari lamunannya dan sulingnya jatuh terlepas dari tangannya. Ia berdiri dan menengok ke belakang. Di depannya berdiri Cin Eng yang dalam pakaian putihnya tersinar bulan purnama merupakan dewi yang baru turun dari kayangan. Bu Beng memandang kagum dan perlahan-lahan ia bertindak maju.

"Moi-moi...

" katanya berbisik dan Cin Eng tundukan kepala.

Sebetulnya Bu Beng masih ragu-ragu untuk menyebut "adik" pada gadis itu, tapi karena mendengar gadis itu menyebutnya "kanda", ia jadi berani merobah sebutan "nona" menjadi "dinda."

"Adik Eng... mengapa kaupun berada disini?" tanyanya halus.

"Aku... aku... mengapa suara sulingmu demikian sedih, koko?" Bu Beng menghela napas.

"Mungkinkah sulingku dapat terdengar dari rumah?"

"Tidak, koko. Hanya saja, tadi kau bicara dengan suara demikian sedih, maka aku merasa tak enak hati lalu menyusul disini..."

"Duduklah adik Eng," kata Bu Beng dan mereka duduk diatas rumput hijau yang merupakan permadani indah dimalam terang bulan ini.

"Sebenarnya aku terkenang kepada orang tuaku adik Eng," katanya dan ia lalu menceritakan riwayat hidupnya yang penuh kepahitan. Cin Eng mendengar dengan terharu dan tak terasa matanya mengalirkan air mata ketika mendengar betapa Bu Beng sampai lupa akan nama sendiri.!

"Jadi itukah yang membuatmu sedih? Kukira..."

"Kau kira apa, adikku?"

"Kukira bahwa kau... tak suka dengan perkawinan kita yang akan datang ini..." Bu Beng menggerakkan tangan dan pegang tangan Cin Eng. Gadis itu terkejut tapi ia tidak menarik tangannya, hanya membiarkan tangan itu digenggam oleh Bu Beng yang merasa betapa tangan itu bergemetar.

"Jangan sangka yang tidak-tidak, adik Eng. Ketahuilah, ketika suheng majukan usul ini, aku hampir berjingkrak kegirangan karena sesungguhnya semenjak kita berjumpa, aku... aku .. suka sekali kepadamu..." Cin Eng hanya tundukkan kepala.

"Dan kau bagaimana adikku? Sukakah kau akan pilihan ibumu ini?" Cin Eng mengangkat wajahnya yang jelita memandang mesra, kemudian ia tundukkan kepala sambil berkata lemah.

"Koko, semenjak pertempuran kita tadi, aku terpikat oleh ilmu silatmu dan oleh kesopananmu. Aku sebagai seorang anak yang puthauw tentu saja menurut segala kehendak ibu, dan pilihan ibu... Tentu saja aku setuju sekali..."

"Apakah kalau pilhan ibumu jatuh pada seorang yang kau tidak suka, kau juga akan menurut? Tanya Bu Beng. Cin Eng gelengkan kepala keras-keras.

"Tidak! dalam hal ini biarpun ibu sendiri akan kutentang."

"Kalau begitu kau suka padaku? Tanya Bu Beng dan pegangan tangannya dipererat. Cin Eng hanya tunduk.

"Entahlah..." kemudian ia berkata.

"Cin Eng adiku, bilanglah terus terang. Cintakah kau padaku? Jawab saja dengan geleng atau angguk." Cin Eng mengangkat mukanya dan mengangguk.

"Betul betul kau cinta padaku? Ingat, aku seorang miskin. Lihat saja bajuku, penuh tambalan. Aku hidup sebatang kara, dan ingatlah, bahwa jika kau menjadi istriku,maka kau akan hidup serba kekurangan dan sengsara." Cin Eng pandang wajah Bu Beng dengan tajam.

"Koko, jangan kau berkata begitu. Kau anggap aku ini gadis apa? Biarpun akan menderita hidup miskin, disampingmu aku akan berbahagia!" Saking girangnya rasa hati Bu Beng, ia menarik tangan Cin Eng hingga gadis itu tersentak dan jatuh bersandar kedadanya.

"Adikku yang jelita, adikku yang tercinta! Tahukah kau bahwa brusan aku merasa sedih sekali dan bahkan mengambil keputusan untuk tidak kawin denganmu karena takut kalau-kalau kau akan menjadi sengsara? Kini hatiku puas. Aku menjadi berani, karena dengan kau disampingku aku berani menempuh gelombang penderitaan yang bagaimana hebatpun." Cin Eng meramkan matanya dan bersandar di dada yang bidang itu dengan hati memukul penuh kebahagiaan. Untuk beberapa lama mereka tenggelam dalam ombak asmara, mabuk alunan mesra. Sengguhpun kedua taruna itu diam saja tak bergerak, yang wanita bersandar ke dada dengan meramkan mata, yang pria duduk memegang kedua lengan dengan berdongak memandang dewi malam yang gemilang, dilamun pikiran penuh keindahan, tiba-tiba Cin Eng tersentak bangun. Ia berdiri memandang Bu Beng dengan mata dibuka lebar lalu berkata hampir berteriak.

"Tidak...! tidak...! Tidak mungkin...!" kemudian sebelum Bu Beng sadar dari terkejutnya gadis itu lari cepat masuk hutan.

"Adik Eng... adik Eng...!" Bu Beng loncat mengejar dengan cepat dan sebentar saja gadis itu telah berada dalam pelukannya.

"Adikku sayang... ada apa? Mengapa kau lari? Apa yang kau susahkan?" Cin Eng menangis sedih dan geleng-gelengkan kepala bagaikan orang gila. Ia berontak-rontak dalam pelukan Bu Beng, tapi pemuda itu tak mau melepaskannya.

"Adik Eng, kalau ada kesukaran, beritahulah aku. Mari kita pecahkan bersama-sama." Tapi Cin Eng hanya geleng-geleng kepala dengan sedih. Tiba-tiba Bu Beng lepaskan pelukannya.

"Hm, agaknya ternyata bahwa kau tidak cinta padaku, ya? Memang lebih baik begitu aku orang miskin tak berharga. Nah, aku takkan mencegah dan menahanmu. Kau bebas, biar aku cinta sepenuh hati dan jiwaku padamu tapi aku sebagai orang laki-laki tak kan gunakan kekerasan untuk memilikimu." Mata Cin Eng terbelalak, ia lalu menangis makin sedih.

"Tidak, koko, bukan demikian, kau salah sangka! Dengarlah, koko kita tak mungkin menjadi suami-istri... karena... karena..." Bu Beng pegang pundaknya.

"Karena apa? Siapa yang melarang? katakanlah... katakanlah!"

"Tidak adayang melarang, koko... tapi... tapi... Kalau kita kawin, maka... itu berarti aku akan menjadi pembunuh...!" Bu Beng terkejut dan tak mengerti.

"Apa katamu? Pembunuh? Siapa yang akan kau bunuh?"

"Aku akan menjadi pembunuh... anakku... Anak kita...!" Bu Beng makin heran. Ia mulai bersangsi. Gilakah gadis ini?

"Cin Eng tenanglah. Apa maksudmu? Aku tidak mengerti sama sekali. Jelaskanlah dan bicaralah dengan tenang. Kau kan wanita gagah? Mengapa begini lemah?"

"Begini koko" kata Cin Eng setelah susut air matanya, "Sebenarnya aku... aku mempunyai semacam penyakit dalam tubuh... kata ayah dulu, akibat penyakitku ini walaupun tidak mengganggu badanku sendiri, tapi akan merusak anak dalam kandungan. Anak yang kukandung akan dimakan penyakit itu dan akan lahir tak bernyawa lagi..." Bu Beng terkejut dan untuk sejenak ia berdiri bagaikan patung dengan hati tak karuan rasa.

"Tak dapatkah diobati?" Cin Eng menahan isaknya.

"Inilah soalnya yang sukar. Inilah mengapa ibu inginkan mantu yang mempunyai kegagahan diatas dia sendiri. Obat penyakit ini sukar sekali dicarinya. Obat ini hanya jantung seekor ular yang telah bertapa dan mempunyai mustika didalam kepalanya! Nah, bayangkan, betapa sukarnya mencari obat ini!" Bu Beng benar-benar terpukul hatinya dan ia pandang wajah kekasihnya dengan putus asa.

"Dimana... dimanakah orang bisa dapatkan ular demikian itu...?" Cin Eng melihat wajah pemuda yang suram dan bersedih itu menjadi kasihan, maka buru-buru ia menerangkan.

"Koko, dulu pernah ayah dan ibu berdua pergi ke tempat dimana terdapat ular macam itu, tapi ternyata mereka gagal dan bahkan hampir saja ayah dan ibu terbinasa karenanya, karena tempat gua dimana ular itu bersembunyi adalah sangat berbahaya. Biarpun ayah ibu berkepandaian tinggi, mereka tak berdaya. Maka, akhirnya kami putuss asa dan aku hidup mengandung kedukaan dan kecemasan. Ibu dan aku sendiri lalu memutuskan bahwa orang yang diterima lamarannya terhadap diriku harus orang yang berkepandaian tinggi dan yang kiranya cukup kuat untuk dapat mencari obat itu. Bu Beng mengangguk-angguk dan wajahnya menjadi gembira kembali. Ia yakin bahwa ia tentu akan dapat mencari obat itu. Segera ia berkata.

"Adikku, tenangkan hatimu. Aku pasti dapat mencari obat itu. Katakanlah dimana tempat itu? Aku akan segera berangkat mencarinya." Cin Eng, pegang erat lengan Bu Beng,

"Jangan, koko... Jangan..."

"Eh, mengapa jangan?" Tanya Bu Beng heran.

"Tempat itu sangat jauh dan berbahaya. Aku khawatir... kau... kau...!"

"Khawatir aku menemui bahaya? Ah, betapa besar bahayanya membunuh seekor ular? Jangankan baru harus menghadapi ular, biarpun disuruh menghadapi seekor naga sakti sekalipun, demi kebahagianmu, akan kutempuh juga dengan berani." Cin Eng sandarkan kepalanya ke dada Bu Beng.

"Koko, kau... Kau seorang mulia. Sebenarnya aku akan bahagia sekali dapat hidup bersamamu di dunia ini yang penuh kegetiran ini. tapi... Kalau kau pergi dan mendapat bencana di tempat berbahaya itu, ah... lalu aku bagaimana koko?" air matanya menitik turun.

"Jangan khawatir, adikku. Rasa sedih dan doamu akan membuat aku tidak mempan oleh segala bahaya. Aku pasti akan kembali. Katakanlah dimana tempat ular itu?"

"Menurut kata ibu, tempatnya jauh sekali, karena bukan di daratan Tiongkok, tapi disebuah pulau sebelah timur pantai Tiongkok, yaitu di pulau Ang Coat Ho. Disitu terdapat sebuah gua di dalam gunung dan disitulah telah bertahun-tahun duduk bertapa seekor ular yang besar sekali. Kepalanya mengeluarkan cahaya dan ia berbahaya serta ganas. Hawa dari mulutnya saja dapat membakar kulit kita, kata ibu. Tapi, lebih baik kita Tanya ibu, karena ia tentu dapat memberi petunjuk yang lebih nyata lagi."

Tanpa membuang waktu lagi, Bu Beng menggandeng tangan Cin Eng dan mereka kembali ke kampung. Cin Eng langsung menuju kerumahnya dan Bu Beng duduk bersamadhi di ruang tamu karena untuk tidur sudah kepalang baginya. Pagi-pagi sebelum fajar menyingsing, Bu Beng segera menjumpai Hun toanio yangternyata sudah bangun pula. Kim Kong Tianglo juga sudah bagun, maka mereka bertiga bercakap-cakap. Bu Beng langsung majukan pertanyaan kepada Hun toanio tentang pulau Ang Coat Ho.

"Ah, kau sudah tahu? Tentu dari Cin Eng! Memang hari ini aku hendak ceritakan padamu, mantuku. Entah dosa apa yang dilakukan oleh ayah atau ibu Cin Eng di waktu mudanya, maka Cin Eng menderita sakit terkutuk itu. Pulau yang kau tanyakan itu terletak di sebelah timur. Aku sendiri tidak tahu jelas. Tapi ada satu jalan yang takkan membawamu tersesat, yahni, dari sini kau menuju ke utara. Terus saja, setelah kira-kira empat lima ratus li, kau akan bertemu dengan sungai besar yang mengalir ke timur. Nah, dari situ kau bisa menggunakan perahu menurut aliran sungai sampai ke laut. Kau harus hati-hati, air sungai itu setelah mendakati laut menjadi sangat besar dan berbahaya. Setelah perahu sampai di permukaan laut, tepat dimana air sungai itu terjun, maka dari situ kau dapat melihat sebuah pulau yang panjang dan kecil bentuknya, agak arah timur laut dan warnanya hitam kehijau-hijauan. Pulau itu mudah dikenal diantara pulau-pulau lain, karena pulau-pulau panjang kecil hanya sebuah itu saja. Nah, dari situ kau dapat berlayar ke pulau itu. Di Ang Coat Ho terdapat sebuah bukit yang puncaknya meruncing keatas. Kau boleh mendarat disebelah selatan pulau itu dan naik bukit melalui sebuah hutan pohon siong yang terdapat di sebelah selatan bukit. Setelah melewati tiga buah hutan yang berbahaya, maka akan sampailah kau di mulut gua ular yang kumaksudkan itu. Nah, disitu kau harus bertindak hati-hati dan segala-galanya terserah kepada pertimbagnan dan kewaspadaanmu sendiri." Bu Beng mendengarkan dengan penuh perhatian sambil mengangguk-anggukkan kepala.

"Sue, Hun toanio dan suaminya yang terkenal gagahpun tidak berhasil membunuh ular itu. Kau harus tahu bahwa usahamu kali ini adalah berbahaya sekali dan bukan tidak mungkin jiwamu dalam bahaya pula. Maka, sudah bulat benar-benarkah hatimu untuk pergi kesana?" Bu Beng memandaang suhengnya dengan sinar mata tetap,

"Suheng, kau sendiri yang mengajar padaku supaya menjadi seorang laki-laki jantan dan memegang teguh kepercayaan. Kini, suheng begitu mencinta kepadaku dan mencarikan pasangan hidup. Maka setelah orang menaruh kepercayaan kepadaku sedemikian besarnya hingga rela menjadi istriku, pantaskah kalau aku mundur hanya karena rintangan ini? pantaskah kalau aku menjadi takut untuk berkorban, biar dengan jiwaku sekalipun? Tidak, suheng sendiri tentu akan mencelaku habis-habisan kalau aku mundur dan takut." Kim Kong Tianglo berdiri dan memegang pundak sutenya.

"Bagus, bagus! Beginilah seharusnya sikap seorang jantan, kau pantas menjadi murid terkasih dari guru kita yang bijaksana. Dan dengan kata-katamu ini terbayanglah betapa besarnya cintamu terhadap calon istrimu. Sayang aku sudah tua dan lemah, sute. Kalau tidak tentu aku akan turut dan membantumu."

"Terima kasih suheng. Aku tidak berani membawamu kedalam bahaya ini. Pula ini adalah tanggung jawab dan kewajibanku sendiri. Disamping itu, akupun ingin meluaskan pengalaman dan menjelajah tempat-tempat yang asing untuk menambah pengetahuanku."

"Bilakah kau akan berangkat, anakku?" Tanya Hun toanio dengan suara halus dan ramah.

"Sekarang juga," jawab Bu Beng dengan suara tetap. Hun Gwat Go berteriak memanggil Cin Eng. Baru saja ia menutup mulutnya, gadis itu telah muncul dari pintu karena semenjak tadi telah mendengarkan di balik daun pintu. Sepasang matanya yang bagus itu berwarna kemerah-merahan bekas tangis dan tangannya membawa sebuah bungkusan. Hun toanio berkata,

"Anakku, kokomu hendak berangkat mencari obat untukmu, hayo haturkan selamat jalan!" Cin Eng tak menjawab tapi menghampri Bu Beng tanpa kata-kata apa-apa hanya mengangsurkan bungkusan itu sambil memandang wajah pemuda itu dengan mata sayu.

"Apakah ini, adik Eng?" Tanya Bu Beng dengan terharu.

"Pakaian dan selimut penahan dingin," jawab gadis itu perlahan sambil tundukkan kepala, lalu ia membalikkan tubuh lari ke pintu. Tapi setiba di ambang pintu, ia menengok memandang sekilas lagi kepada Bu Beng dan bibirnya berbisik perlahan,

"Hati-hatilah koko...

" Hun Gwat Go dan Kim Kong Tianglo ikut terharu melihat perpisahan ini dan diam-diam mereka heran mengapa kedua taruna itu nampak telah demikian mesra seakan-akan sudah tak asing lagi. Bu Beng berjalan cepat tiada hentinya sehari penuh. Karena daerah yang dilaluinya itu masih asing baginya, maka ia sendiri tidak tahu kemana ia sedang menuju! Ia hanya tahu bahwa ia harus mengambil jalan langsung kearah utara. Maka ia menjadi bingung juga ketika matahari telah tenggelam dan cuaca sudah mulai gelap, masih saja ia belum keluar dari sebuah hutan.

Ketika ia melihat dua ekor burung mendekam diatas dahan pohon yan rendah, maka tiba-tiba ia merasa letih. Tadi semangatnya yang berkobar-kobar hendak lekas-lekas tiba di tempat yang ditujunya membuat ia tak kenal lelah, tapi dua ekor kurung yang sedang beristirahat dengan nikmatnya itu membuat kedua kakinya terasa lemas dan tiba-tiba ia ingat pula bahwa sehari itu ia belum makan apa-apa. Ia pasang mata dan telinga kalau-kalau di dekat situ terdapat rumah makan atau runah perkampungan. Tapi ternyata hutan itu liar dan hanya penuh dengan pohon-pohon besar. Bu Beng loncat keatas, dari mana ia memandang kesana kemari kalau-kalau ada, tentu ia akan dapat melihat sinar api pelita rumah orang.

Betul saja, di jurusan selatan ia melihat sinar api berkelap-kelip. Segera ia meloncat turun dan menuju ke tempat itu. Ternyata sinar pelita itu keluar dari sebuah pondok kecil yang sederhana. Pintu pondok itu tertutup rapat. Bu Beng maju mengetuk tapi tiada terdengar jawaban. Bu Beng mengetuk lagi sambil memanggil-manggil. Tetap tiada jawaban. Ia menjadi curiga dan segera mengintip dari celah-celah bilik dan daum jendela. Ia melihat rumah itu kosong dan tidak ada penghuninya, tpi diatas meja tampak makanan didalam beberapa buah mangkuk. Dan timbullah seleranya. Tanpa memperdulikan bahwa tindakannya itu tidak sopan, ia gunakan tenaganya untuk mendobrak daun pintu. Ketika ia memasuki rumah itu, bau arak wangi menambah laparnya dan langsung ia menuju ke meja yang penuh makanan itu.

Tiba-tiba terdengar suara dan seperti ada sesuatu bergerak-gerak di ruang sebelah kamar itu. Bu Beng segera berlaku waspada. Sekali meloncat ia lewati pintu tembusan dan berada dalam kamar sebelah itu. Alangkah kagetnya ketika melihat seorang tua rebah di lantai tak berdaya. Ketika ia melihat lebih cermat, ternyata bahwa orang laki-laki tua itu tidak lain adalah Lui Im si Golok Setan, ketua Cung lim pang yang telah ditemuinya di rumah Lim San dulu itu. Orang tua gagah itu tak berdaya dan Bu Beng maklum Lui Im terkena totokan jari tangan seorang pendekar ulung. Ia segera mengulurkan tangannya dan menggunakan jari tengah untuk memulihkan jalan darah Lui Im. Setelah jalan darahnya baik kembali, Lui Im menggerak-gerakkan kaki dan tangannya, lalu meloncat berdiri. Ia memandang Bu Beng dan merasa girang bercampur terkejut ketika menganalnya. Segera ia menjuru.

"Ah, terima kasih, Bu Beng Taihiap. Sungguh hebat totokan yang membuatku tak berdaya tadi sehingga setelah mengumpulkan semangat, aku hanya mampu menggerak-gerakkan kakiku saja untuk menarik perhatian orang. Ternyata yang masuk rumah ini tadi adalah kau sendiri. Sukurlah, kalau tidak entah bagaimana jadinya dengan diriku." Bu Beng balas menghormat,

"Aku juga girang sekali dapat berjumpa dengan Lo-Enghiong disini. Bagaimanakah erjadinya maka Lo-Enghiong sampai dalam keadaan begini dan ini rumah siapa?" Lui Im menghela napas.

"Kalau diceritakan, sungguh membuat aku malu. Kali ini hancurlah nama si Golok Setan dan sekaligus tercemar dan hina pulalah nama perkumpulanku," kemudian ia bercerita. Lui Im yang terkenal dengan sebutan Golok Setan karena memang permainan goloknya sangat ditakuti kaum persilatan, meminpin sebuah perkumpulan yang berpengaruh yaitu perkumpulan Cung lim pang. Telah lama perkumpulannya menanam bibit permusuhan dengan perkumpulan Hong bu pang yang berada di kota itu juga. Permusuhan itu sebenarnya dibangkitkan oleh soal yang kecil saja.

Mula-mula terjadi perkelahian pribadi antara seorang anggota perkupulan Cung lim pang dan seorang anggota Hong bu pang. Tentu saja rasa setia kawan dari masing-masing pihak mudah saja terbakar oleh perkelahian ini dan rasa permusuhan menjalar begitu dalam hingga Lui Im sendiri dan ketua Hong bu pang yang bernama Tan tek Seng seorang jagoan cabang atas, ikut-ikut terseret. Kedua jago tua ini sebenarnya memiliki kepandaian tinggi dan mempunyai kesabaran yang besar, tapi desakan api permusuhan yang dikobarkan oleh anak buah masing-masing demikian besar hingga pada suatu hari kedua jago-jago tua itu bertemu untuk mengadu tenaga.! Dalam perkelahian yang hebat itu Tan Tek Seng dapat dikalahkan oleh Lui Im. Tentu saja kekalahan ini tidak ditelan mentah-menatah oleh Pangcu dari Hong bu pang itu. Ia menaruh dendam hati yang ditahan-tahan.

Beberapa bulan kemudian. Lui Im menerima surat tantangan dari Tan Tek Seng untuk mengadu tenaga di hutan Hek san lim di luar kota. Dalam surat itu disebutkan bahwa masing-masing tidak boleh membawa teman. Lui Im adalah seorang jagoan tua yang gagah berani. Menerima surat itu, walaupun dalam hatinya terbit curiga, namun ia merasa malu jika ia tidak berani datang ke hutan itu seorang diri. Demikianlah, pada hari itu ia pergi seorang diri ke hutan tersebut. Di tengah hutan telah menanti Tan Tek Seng, tapi Pangcu yang licik itu ternyata tidak datang seorang diri. Ia mempunyai seorang kawan yang disembunyikan. Maka, ketiak mereka sedang berkelahi mati-matian, tiba-tiba daja muncul seorang pendeta memelihara rambut panjang memisahkan mereka dan pura-pura menanya persoalan mereka.

Sebenarnya imam itu adalah orang bawaan Tan Tek Seng. Untuk membuktikan bahwa Tan Tek Seng datang seorang diri, maka imam itu diminta datang belakangan. Dalam keputusan dan pengadilan yang berat sebelah Lui Im menjadi marah dan akhirnya ia bertarung dengan imam itu yang mengaku bernama Ang Hwat Tojin. Ternyata imam itu hebat sekali hingga akhirnya Lui Im kena totok roboh dan tak berdaya. Tahu-tahu ia telah dibawa oleh lawannya kedalam pondok itu, sedangkan kedua lawannya makan minum hidangan yang telah disediakan dalam pondok. Dalam keadaan tidak berdaya inilah Lui Im dapat menangkap pembicaraan mereka dan tahu bahwa Ang Hwat Tojin memang sengaja diundang oleh Tan Tek Seng untuk menjatuhkannya. Sehabis bercerita. Lui Im menghela napas lagi.

"Bu Beng hiante, mereka sangat menghinaku. Ketika hendak pergi, imam itu berkata bahwa jika aku hendak menuntut balas aku boleh datang ke rumah Tan Tek Seng Pangcu karena ia akan berdiam disana selama satu bulan. Sungguh sakit sekali hatiku. Biarpun aku harus mengakui bahwa ia lebih unggul dariku, tapi aku lebih baik mati daripada menerima hinaan ini. sekarang juag aku harus pergi kesana mengadu tenaga!" Sambil mengucapkan kata-kata ini, Lui Im berdiri dan dengan tangan mengepal ia kertakan gigi, kedua matanya bersinar menyala-nyala. Bu Beng juga merasa panas akan kecurangan Tan Pangcu. Lebih-lebih jika diingat bahwa Lui Im adalah sahabat baik suhengnya, Kim Kong Tianglo. Sebelum ia berkata sesuatu, Lui Im berkata lagi dengan suara sedih.

"Ah sayang sekali, kalau saja sahabatku Kim Kong Tianglo berada disini, belum tentu aku yang tua ini sampai terhina demikian rupa!" Bu Beng merasa akan sindiran ini, ia maklum bahwa bagaimanapun juga, Lui Im tidak percaya bahwa ia cukup kuat untuk membelanya. Maka dengan tenang ia berkata.

"Lo-Enghiong, aku sebagai sute dari Kim Kong Tianglo, mana dapat berpeluk tangan melihat saja semua kejadian ini? maka jika kau sudi menerimanya, aku tawarkan tenagaku yang tak beranti ini untuk mewakili suhengku membantumu dalam persoalan ini." Lui Im berdiri dengan wajah girang.

"Terima kasih hiante, terima kasih. Kalau kau suka membantu, pasti sakit hatiku ini dapat dicuci bersih."

"Jangan terlalu berbesar harap, Lo-Enghiong, tapi aku akan bekerja sekuat tenaga. Bilakah kita akan kesana?"

"Mari kita makan dulu, hiante. Bangsat-bangsat itu sengaja meninggalkan makanan diatas meja agar aku merasa sengsara dan menderita. Mari kita beristirahat dulu semalam ini. besok pagi=pagi kita berangkat."

Keduanya lalu makan dan Bu Beng yang telah merasa lapar sekali makan dengan lahapnya. Kemudian mereka mengaso dalam kamar itu dimana terdapat sebuah tempat tidur bata. Pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka berangkat dan langsung manuju ke kampung Hong bu pang. Perkampungan itu terdiri dari beberapa petak rumah yang semuanya milik anggota-anggota perkumpulan itu. Kampung itu dikelilingi oleh tembok tinggi yang dipasang besi-besi runcing diatasnya. Empat pintu besar di tiap penjuru dibuka lebar-lebar dan beberapa gerobak hilir mudik melaluinya. Pintu itu masing-masing dijaga oleh enam orang bersenjata tombak dan golok. Sikap mereka galak dan angkuh. Lui Im dan Bu Beng menghampiri pintu selatan. Mereka dihentikan oleh penjaga-penjaga disitu dan ditanya keperluan mereka.

"Kami berdua hendak menjumpai Tan pangsu." Ketika penjaga-penjaga itu mendengar bahwa yang datang adalah Pangcu dari Cung lim pang, berubahlah wajah mereka dan dua orang diantaranya segera lari masuk memberi laporan. Tak lama kemudian, dari dalam perkampungan kecil itu keluar orang setengah tua yang bertubuh tegap dengan tindakan kaki tetap, menandakan bahwa ia adalah seorang ahli silat. Ketika melihat Lui Im, ia menjuru dengan hormat.

"Maafkan, Lui Pangcu, Pangcu kami kebetulan sedang keluar kampung. Tapi ia tadi memberi pesan padaku, bahwa jika ada orang datang mencarinya, diminta agar kembali lagi malam nanti." Lui Im kenal bahwa yang datang itu adalah seorang jagoan di Hong bu pang yang bernama A Liat si Angin Ribut. Maka ia balas menjuru dan berkata kecewa.

"Ah, sayang sekali. Sebenarnya aku datang memenuhi undangan Ang Hwat Tojin."

"Ang Hwat Tojin juga keluar bersama-sama Pangcu. Sebaiknya Lui Im Pangcu kembali saja malam nanti." Ketika berkata demikian A Liat mengerling kearah Bu Beng sambil mengamat-amati, seakan-akan sedang mengukur-ukur kekuatan orang itu. Ketika itu Lui Im duduk diatas sebuah bangku yang terdapat ditempat jaga itu dan melihat Bu Beng berdiri saja, si Angin Ribut segera menghampiri bangku batu di sudut dan dengan sekali congkel dengan kaki bangku itu melayang keatas dan diterima olehnya seakan-akan bangku batu yang beratnya ada seratus kati itu hanya merupakan bangku bamboo saja. Kemudian ia membawa bangku itu kepada Bu Beng dan berkata.

"Silakan duduk, tuan muda," ucapan "tuan muda" ini mengandung sindiran, karena Bu Beng yang ketika itu belum mengganti pakaian kuning penuh tambalan sesungguhnya sebutan "tuan muda" itu tidak pantas dan menggelikan. Bu Beng maklum bahwa orang itu sedang menunjukkan kekuatan tenaganya. Maka ia pura-pura kaget dan termangu.

"Ah, tenaga tuan sungguh mengkagumkan! Terima kasih!" kemudian ia duduk di bangku batu yang tebal itu, tapi diam-diam ia kerahkan tenaga dalamnya dan "krak!" kaki bangku itu patah menjadi empat.

"Sayang bangkumu lapuk sekali, tuan," kata Bu Beng tersenyum dan berdiri tegak. Bukan main kaget A Liat melihat hal ini. diam-diam ia kagum sekali, maka ia menjuru dan berkata, "Maaf."

"Nah, kalau begitu, biarlah kami kembali malam nanti pada kentungan sembilan kali. Katakanlah kepada Pangcumu agar ia bersikap demikian pula kepada Ang Hwat Tojin," kata Lui Im yang segera mengajak Bu Beng pergi.

Mereka berdua lalu menuju ke kampung Lui Im. Semua anggota perkumpulan Cung Lim pang yang tadinya telah merasa cemas dan khawatir karena Pangcu mereka semalam tidak pulang, kini menjadi girang melihat Pangcu mereka kembali dalam keadaaan sehat. Istri Lui Im dan Kui hwa anak gadisnya menyambut kedatangan mereka dengan ramah tamah. Lui Im membuat perjamuan untuk menghormati tamunya. Ketika mendengar bahwa anak muda yang berpakaian kuning penuh tambalan itu adalah sute dari Kim Kong Tianglo yang mereka kenal baik, nyonya Lui Im makin manis sikapnya dan lebih-lebih Kui hwa. Lui Im merasa gembira sekali, karena ia yakin bahwa Bu Beng pasti dapat membersihkan namanya. Maka ia makan minum sepuas-puasnya sampai mabuk. Di tengah-tengah perjamuan ia berkata kepada tamunya.

"Bu Beng hiante, maafkan kalau aku berlaku lancing. Berapakah usia hiante tahun ini dan apakah sudah mempunyai hujin?" Merah wajah Bu Beng mendengar pertanyaan ini. karena pertanyaan dari seorang yang mempunyai anak gadis yang diajukan seperti ini bukannya tak mengandung arti. Maka dengan malu-malu ia berkata.

"Siauwte berusia dua puluh enam tahun dan belum kawin, tapi..." Ia menyambung cepat, "siauwte sudah bertunangan." Biarpun ditahan-tahan, nampak juga kekecewaan menggores wajah Lui Im.

"Siapakah nona tunanganmu itum hiante?"

"Ia adalah puteri dari mendiang Lui Pa San Lo-Enghiong." Katanya dan tiba-tiba ia teringat akan penyakit yang diderita Cin Eng hingga tak terasa menghela napas. Demikianlah, hari itu mereka lewati dengan makan minum dan bercakap-cakap. Lui Im suka sekali kepada pemuda yang bersikap sopan dan pandai membawa diri itu. Bu Beng mendapat sebuah kamar istimewa dan ketika ia dipersilakan mengaso, ia buka bungkusan pemberian Cin Eng.

Ternyata bungkusan itu berisi dua stel pakaian warna kuning yang masih baru dan sehelai selimut. Bu Beng kagum sekali betapa cepatnya gadis pujaannya itu mempersiapkan pakaian untuknya. Ah, tentu sepulangnya dari hutan itu, tunangannya terus menjahit hingga pagi! Ia lepaskan pakaiannya yang lapuk dan mengenakan pakaian baru itu. Ternyata pas benar! Ia makin kagum kepada kekasihnya. Kemudian ia berbaring dan tidur. Pada kira-kira pukul tujuh malam, ia jaga dari tidurnya dan terus duduk bersemedhi menentramkan semangat karena ia harus menghadapi kemungkinan bertempur melawan orang-orang lihai. Beberapa jan kemudian terdengar panggilan Lui Im perlahan. Bu Beng yang sudah siap lalu membuka pintu. Orang tua itu telah berpakaian ringkas dan pinggangnya tergantung goloknya. Ia nampak gagah dan sigap.

"Sudah siap, hiante?" tanyanya perlahan.

"Sudah, marilah." Ternyata Lui Im tidak memberitahukan persoalannya kepada anak istrinya agar mereka jangan merasa khawatir. Maka diam-diam kedua orang itu meninggalkan kampung dan menuju kearah Hong bu pang. Ketika mereka tiba di depan pintu gerbang Hong bu pang, ternyata pintu itu tertutup rapat. Bu Beng mencoba mendorongnya, tapi pintu itu terbuat daripada besi tebal dan terkunci dari dalam, kuat sekali.

"Eh, kenapa mereka menutup pintu? Takutkah mereka?" Tanya Bu Beng.

"Tidak mungkin mereka demikian pengecut!" seru Lui Im keras-keras dengan sengaja agar dapat terdengar dari balik tembok. Tiba-tiba Bu Beng memperingatkan.

"Awas senjata gelap!" tapi Lui Im dapat mendengar juga suara angin menyambar kearah mereka. Ia meloncat dan tiga batang piauw menyambar lewat. Bu Beng mengulurkan kedua tangannya menangkap dua batang pelor yang menyambar kearahnya.

"Ha, ha, ha! Lui Im! kau berani datang mencari mampus! Masuklah kalau kau dapat dan berani." Terdengar suara Tan Tek Seng menertawakan mereka dari atas tembok.

"Orang she Tan pengecut! Biar kukejar sampai dimana juga!" teriak Lui Im dengan marah dan ia siap meloncat keatas, tapi tiba-tiba lengannya dipegang oleh Bu Beng. Lui Im merasakan pegangan itu kuat sekali hingga tak mungkin baginya untuk melepaskan diri dan meloncat.

"Sabar, Lui Lo-Enghiong biarlah siauwte yang naik dulu untuk melihat suasana. Aku khawatir mereka memasang jebakan diatas, sebagaimana yang telah mereka lakukan dengan mengirim senjata gelap tadi." Sebelum Lui Im dapat menjawab, anak muda itu mengayunkan tubuhnya dan melayang keatas tembok. Bagi orang lain, biarpun ia mempunyai kepandaian tinggi, jika meloncat tembok itu tentu sesampainya diatas akan berpegangan kepada besi runcing. Tapi Bu Beng mempunyai ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang sempurna dan gerakannya gesit sekali.

Maka dengan sengaja ia perkeras loncatannya hingga tubuhnya melayang keatas besi-besi itu dan menginjakkan kedua kakinya diujung besi! Tubuhnya dengan tetap dan ringan bagaikan seekor burung berdiri diatas besi itu sambil memandang kebawah dengan tajam. Benar saja, dari bawah menyambar beberapa belas piauw dan pelor besi kearahnya. Secepat kilat Bu Beng mencabut pedang pendek wee liong kiam dari punggungnya dan memutarnya untuk melindungi tubuh. Semua senjata rahasia itu terpental kembali dengan suara berderincingan. Maka pemuda yang tajam itu melihat beberapa bayangan tubuh di bawah tembok. Ia segera mengayunkan tangannya dan melepaskan dua buah pelor yang tadi disautnya ketika ia mula-mula mendapat serangan. Terdengar suara teriakan orang kesakitan dibawah tembok.

"Tan Pangcu! Ang Hwat Tojin! Tidakkah sambutan ini sangat memalukan dan bukan perbuatan orang-orang gagah? Atau kalian takut kepada Lui Pangcu?" seru Bu Beng dari atas.

"Orang gagah Dari mana yang datang ini. turunlah dan bawa orang she Mui itu masuk. Kami ingin memandang mukamu dan mempersilakan kamu masuk," terdengar suara Tan Tek Seng.

Bu Beng segera memberi isyarat kepada Lui Im yang masih berdiri dibawah. Lui Im menggerakkan kakinya dan meloncat keatas. Ia tidak berani meniru perbuatan dan gerakan Bu Beng tadi, tapi menggunakan tangan kirinya memegang sebuah besi untuk menahan tubuhnya. Kemudian dengan Bu Beng mendahuluinya, mereka turun ke dalam. Mereka disambut oleh tiga orang yang berdiri di tengah-tengah lapangan. Di sekitarlapangan itu ditaruh obor yang membuat tempat itu terang sekali bagaikan siang. Di belakang obor-obor itu berdiri berpuluh orang dengan pakaian ringkas dan senjata di pinggang merupakan barisan. Keadaan mereka kelihatan perkasa sekali dan rupa-rupanya mereka telah melakukan persiapan sejak tadi. Tan Tek Seng yang bertubuh gemuk pendek melangkah maju, dan menjuru kepada Lui Im.

"Lui Pangcu. Sungguh beruntung hari ini aku dapat bertemu kembali dengan kau dalam keadaan sehat."

"Aku tidak ada urusan apa-apa lagi dengan kau, Tan Pangcu. Bukankah kau adalah pecundangku? Aku datang menagih janji dan memenuhi undangan Ang Hwat Tojin." Ia melirik kearah orang pendeta kurus tinggi yang memegang kebutan putih berdiri tenang sambil memandang kearah tamu-tamu itu dengan acuh tak acuh.

"Siancai, siancai!" pendeta itu berkata dengan lagak seorang alim.

"Rupanya Lui Pangcu mendapat bantuan orang pandai hingga berani berlagak setelah pinto ampuni jiwanya."

"Hm, pendeta jahat! Selama hidupku belum pernah bermusuhan dengan orang seperti kau. Tapi mengapa kau berani-berani mencampuri urusan kami tanpa mengetahui duduk perkaranya? Apakah ini pantas disebut perbuatan seorang yang mencucikan diri dan telah memakai jubah pendeta? Kau bilang aku membawa teman, memang betul, tapi siapakah yang melanggar perjanjian lebih dahulu? Aku datang seorang diri di hutan malam tadi, tapi ternyata Tan Pangcu diam-diam mengundang kau. Sekarang aku datang membawa seorang kawanku, bukankah ini cukup adil?"

"Orang she Lui! Jangan kau lancing mulut menyebut-nyebut tentang kedudukanku. Kau sudah nyata bukan tandinganku, apakah kau mencari mampus? Tentang kawanmu, janganlah hanya seorang, biar kau bawa beberapa orang lagi, aku tidak ambil pusing. Jangan kira kami takaut padamu dan pada kawan-kawanmu," jawab Ang Hwat Tojin sambil menuding-nudingkan kebutannya.

"Lui Lo-Enghiong," kata Bu Beng dengan suara mengandung ejekan, "Mereka bilang tidak takut kepada kita yang tak mempunyai kepandaian apa-apa, tapi lihatlah dia itu, bukankah dia itu agaknya orang yang siang tadi mereka cari untuk diminta bantuannya?" Lui Im memandang kearah orang yang dituding pemuda itu dan melihat seorang kate yang berpakaian seperti pengemis sambil memegang tongkat. Oran itu duduk diatas tanah dengan tak acuh sama sekali tentang pembicaraan mereka, tapi hanya menggunakan tongkatnya menggaris-garis tanah. Bu Beng tertarik sekali oleh goresan tongkat itu karena biarpun hanya ditekan lemah tapi goresannya dalam sekali menunjukkan adanya tenaga dalam yang sudah mencapai tingkat tinggi. Ia jadi memperhatikan apa yang dituliskan oleh si kate itu.
Ternyata dibaris pertama adalah ujar-ujar nabi Khong Hu Cu yang berbunyi

"Su Hai Lwee Kai Heng Tee Ya" yang artinya, "Di empat penjuru lautan semua orang adalah saudara," lalu dibawah kedua disambung ujar-ujar lain yang berbunyi.

"Janganlah kau lakukan kepada orang lain sesuatu yang kau sendiri tidak mau dilakukan oleh orang lain kepadamu." Orang kate itu berusia kurang lebih lima puluh tahun, rambutnya terdapat banyak uban dan awut-awutan tak terurus. Mukanya kotor penuh daki dan wajahnya menunjukkan watak sembarangan dan tidak pedulian, tapi sepasang matanya mengeluarkan sinar tajam berpengaruh yang tertutup oleh pelupuk mata yang selalu tampak seperti orang mengantuk. Bu Beng diam-diam herean dan menduga-duga siapakah pengemis tua yang luar biasa ini. Sementara itu, mendengar ejekan Bu Beng, ANg Hwat Tojin menjadi malu dan mukanya berubah merah. Ia kibas-kibaskan kebutannya dan berkata.

"Sudahlah jangan banyak mengobrol kata-kata busuk yang tak berharga. Sekarang kalian sebagai tamu yang sudah datang maka kami sebagai tuan rumah hendak bertanya apakah kehendak kalian? Apakah kau masih sakit hati dan hendak mengadu tenaga dengan pinto, orang she Lui?" ia menantang sikapnya sombong dan memandang rendah. Bu Beng mewakili Lui Im menjawab,

"Ang Hwat Tojin maafkan aku yang muda ikut bicara. Kalau dipikir dalam dalam kau sebenarnya tidak mempunyai hubungan sesuatu dengan Lui Im. Maka, jika kiranya Tan Pangcu masih belum puas, ia boleh ada tenaga dengan Lui Pangcu. Tetapi sebenarnya menurut pikiranku yang bodoh, tak perlu permusuhan ini dilanjutkan berlarut-larut, mengingat bahwa kedua-duanya adalah ketua dari perkumpulan besar yang seharusnya dapat memberi teladan baik bagi semua anggotanya dan mejauhi pertikaian yang tiada guna. Adapun kau sendiri karena kau menjadi orang undangan Tan Pangcu, jika kau hendak main-main, sudah terang bahwa Lui Pangcu bukan tandinganmu. Bukannya aku yang muda mau berlaku sombong, tapi kasihan kalau Lui Pangcu yan sudah tua itu harus menjadi korban totokanmu lagi, biarlah ia kuwakili denan tubuhku yang lebih muda."

"Sudah kusangka, sudah kusangka. Lui Im takkan berani datang kesini kalau tidak ada orang yang diandalkan. Tentu kau mempunyai kepandaian yang lebih tinggi daripada orang she Lui itu. Nah, majulah, majulah anak muda biar kita main-main sebentar." Bu Beng maju dua langkah dan setelah menjuru kepada lawannya, ia mencabut pedang pendeknya dari punggung. Ang Hwat Tojin melihat pedang itu menjadi kaget dan berseru,

"Tahan dulu! siapakah namamu?"

"Orang sebut aku Bu Beng."

"Bu Beng Kiam Hiap? Kau kah ini? ha, ha, ha! ini namanya ular dicari-cari kemana-mana tidak terdapat, tahu-tahu ular itu merayap kearah kaki! Hm, jadi kau kah yang telah membinasakan suteku dan merampas pedangnya? Hayo kembalikan Hwe hong kiam itu padaku!" Bu Beng memutar-mutar pedang pendeknya dan tersenyum.

"Gampang saja kau mau minta pedang ini. jadi kau ini suheng dari Kong Bouw? sungguh heran, seorang pendeta mempunyai sute kepala penjahat yang kejam dan ganas! Ketahuilah, Ang Hwat Tojin, sutemu biarpun mati di tanganku tapi sebenarnya ia mati karena kejahatan dan dosanya sendiri. Kalau ia tidak jahat dan penuh dosa, masakan dia dapat bertempur dengan aku? Dan kalau tidak bertempur dengan aku, masakan dia dapat tewas? Tenang Hwe hong kiam ini, aku dapatkan setelah bertempur mati-matian dikeroyok oleh Kong Bouw dan komplotannya. Maka sekarang, kalau kau hendak memilikinya, ambillah dari tanganku. Pedang ini tidak pantas dimiliki untuk melakukan kejahatan. Sudah cukup pedang ini menderita karena siraman darah orang-orang yang tidak berdosa, kini aku harus mencuci segala noda itu dengan darah orang-orang jahat yang layak menjadi korbannya."

Bukan main marahnya Ang Hwat Tojin mendengar uraian itu. Ia menggerakkan tangan kanan mencabut pedang yang terselip di punggungnya. Kemudian sambil menggeram keras ia maju menyerang. Bu Beng berlaku hati-hati karena dulu ia telah bertanding dengan Kong Bouw yang ternyata ilmu silatnya hebat juga. Kini berhadapan dengan suheng kepala penjahat itu, ia harus berhati-hati kareena tentu saja suhengnya lebih hebat daripada sutenya. Serangan lawan itu ditangkisnya dan cepat ia balas menyerang dengan tipu berbahaya dari Kim liong kiam hoat.

Pedang Hwe hong kiamnya berkilat seperti kilat menusuk dada lawan. Ang Hwat Tojin terkejut melihat ini dan cepat cepat ia gunakan kebutannya yang dipegang tangan kiri untuk menyabet pedang itu dengan gerakan "ular putih melilit dahan." Kebutan itu benar saja telah melilit peadang Bu Beng dengan kuatnya. Bu Beng kaget juga melihat kehebatan imam itu. Ia mencoba manarik pedangnya, tapi makin ditarik makin keras saja libatan itu. Mereka berdua mengerahkan tenaga, Bu Beng menarik dan lawannya menahan. Tiba-tiba Ang Hwat Tojin menusukkan pedangnya ketenggorokan Bu Beng. Bukan main hebat dan berbahayanya serangan ini justru pada saat Bu Beng sedang mengerahkan tenaga kearah pedangnya yang terlibat!

Anak muda itu memutar pergelangan tangannya untuk membalikkan mata pedang dengan maksud menggunakan mata pedang itu membabat kebutan itu sambil ia berkelit merendahkan tubuhnya menghindari tusukan lawan. Ang Hwat Tojin merasakan lilitan kebutannya tiba-tiba mengendur dan ketika ia lihat, bukan main rasa panas dan marahnya kaarena ternyata kebutannya telah putus oleh tajamnya pedang hwe hong kiam. Dengan marah ia ayunkan gagang kebutan yang erbuat dari besi itu kearah Bu Beng. Bu Beng maklum akan kerasnya ayunan itu, maka ia tidak berani menerimanya, dan mengelakkannya. Gagang kebutan itu terlempar kesisi dan menancap diatas tanah hingga tak kelihatan lagi. Demikian hebatnya tenaga imam itu, hingga kalau gagang kebutan itu mengenai tubuh, maka dapat dibayangkan betapa hebat akibatnya.

"Bangsat kecil lihat pedang!" Ang Hwat Tojin berseru marah.

Ia memutar pedangnya demikian rupa sehingga sinarnya berkilauan karena cahaya api obor. Ia menggunakan ilmu pedangnya "Halilintar mengamuk" menyerang dengan tiba-tiba dan mematikan. Tapi Bu Beng menghadapinya dengan gagah. Pemuda ini memainkan Kim liong kiam hoat dicampur denagn tipu-tipu pedang dari Hoa San Pai yang hebat hingga sinar pedangnya bergulung-gulung menindih sinar pedang imam itu, pertempuran berjalan ramai sekali, mereka merupakan sepasang naga yang sedang bercanda, mendatangkan angin dingin bersiutan karena gerakan mereka yang didorong oleh tenaga iweekang yang tinggi. Semua orang melihat jalannya pertempuran dengan bengong dan kagum. Bahkan orang tua kate yang kini berdiri dengan tongkat terjepit dibawah lengan turut menonton. Berkali-kali terdengar bisikan di mulutnya yang kecil.

"Bagus, bagus..." Pada satu saat, ketika Ang Hwat Tojin menusuk karah ulu hati Bu Beng, pemuda itu menggerakkan pedangnya menangkis, tapi ia terus gunakan tenaga iweekangnya menempel pedang lawan,

Memutar lengannya dengan cepat hingga Ang Hwat Tojin terpaksa mengikuti gerak putaran itu dan sekali menyenakkan pedang pendeknya keatas, Ang Hwat Tojin berteriak kaget dan pedangnya terlepas dari tangannya terbang ke udara. Ketika pedangnya mengikuti putaran tadi, Ang Hwat Tojin merasa telapak tangannya kesemutan dan pedangnya seakan-akan menempel ke pedang lawan, dan ketika ia sedang kebingungan untuk melepaskan pedangnya dri tempelan, tiba-tiba tenga keras menarik pedangnya dan sentakan lawan membuat ia tak dapat menahan lagi hingga pedangnya terpelanting keatas. Sebelum Ang Hwat Tojin hilang kagetnya, jari tangan Bu Beng secepat kilat menusuk dan menotok jalan darah di pundaknya. Pendeta itu jatuh terduduk dan tak dapat bangun kembali, karena totokan yang hebat itu membuatnya lumpuh dan mati setengah tubuhnya.

"Bangunlah, Ang Hwat Tojin, bangunlah," tiba-tiba pengemis kate itu berkata dan menggunakan tangannya memegang pundak Ang Hwat Tojin sambil membantunya bangun. Tapi diam-diam orang kate itu menggunakan tangannya menekan pundak dengan gerakan capung melayang memukul air untuk menyembuhkan totokan Bu Beng. Ang Hwat Tojin segera dapat bangun berdiri dengan wajah merah dan sepasang matanya memandang lawan yang muda itu dengan melotot. Orang kate itu menghadapai Bu Beng dan bertindak maju sampai hanya tiga kaki terpisah dari Bu Beng. Ia masih mengempit tongkatnya dan menjuru sambil merangkapkan kedua tangan.

"Bu Beng Taihiap, kau sungguh hebat dan membuat aku sangat kagum." Katanya dengan senyum. Bu Beng merasa ketapa dari kedua lengan itu menyambar tenaga besar hingga ia sangat terkejut. Buru-buru ia rangkapkan kedua tangan sambil mengerahkan iweekangnya dan balas menjuru.

"Losuhu terlalu memuji. Mohon keterangan siapakah losuhu ini?" si kate yang sedang mencoba kehebatan anak muda itu merasa tenaganya terpukul kembali hingga diam-diam ia makin mengagumi Bu Beng.

"Ha, ha, sungguh hebat. Sungguh hebat. Masih semuda ini, tapi memiliki kepandaian yang tak tercela. Dengarlah anak muda, lohu disebut orang Pengemis Kecil tongkat Wasiat. Namaku Lo Sam dan pekerjaanku mengemis." Kembali Bu Beng terkejut. Tak heran bahwa pengemis kate ini demikian hebat, sebab ia adalah ketua perkumpulan pengemis dari daerah barat yang sangat terkenal namanya! Tapi, menurut Kim Kong Tianglo, suhengnya, Lo Sam adalah seorang yang sangat mengutamakan budi kebaikan, bahkan ia berlaku sangat bengis terhadap anggota-anggota perkumpulannya, karenanya iaa sangat dipuji kaum persilatan. Tapi kini ia membantu orang semacam Ang Hwat Tojin dan Tan Tek Seng. Bu Beng menjuru dengan hormat.

"Tidak kusangka Lo-Enghiong yang kuhdapi. Maaf, maaf, kalau aku yang muda berlaku kurang hormat. Dengan adanya Lo-Enghiong disini, siauwte yakin bahwa urusan ini pasti dapat diselesaikan dengan damai dan sempurna, karena siauwte sudah mendengar tentang keadilan Lo-Enghiong."

"Hm, hm, kau pandai membawa diri, anak muda. Bolehkah aku mengetahui siapa gurumu yang mulia?"

"Kiranyaakan cukup jika siauwte katakana bahwa siauwte adalah adik seperguruan dari Kim Kong tianglo."

"Oo... begitukah? Tak heran kau begitu hebat! Tak kusangka kau adalah murid dari Hun San Tojin almarhum." Sementara itu Ang Hwat Tojin pun terkejut ketika mengetahui bahwa pemuda itu adalah sute dari Kim Kong Tianglo, karena ia sendiri pernah jatuh dalam tangan Hwesio yang lihai itu.

"Bu Beng Taihiap, karena kau masih muda, maka biarpun sifat-sifatmu baik, namun kau masih juga dikuasai oleh nafsu berkelahi. Ketahuilah kedatanganku ini walaupun memenuhi undangan Ang Hwat Tojin tapi bukan sekali-kali untuk mengadu kepandaian. Aku sengaja datang untuk mendamaikan urusan ini. sebetulnya telah kuketahui bahwa Tan Pangcu maupun Lui Pangcu kedua-duanya adalah orang-orang baik dan jujur. Sayang mereka berdua kurang luas pandangannya dan mudah saja terbakar oleh murid-murid atau anggota-anggota mereka hingga terjadi bentrokan ini. sebenarnya apakah untungnya untuk berkelahi antara kita sendiri? Kita dikurniai kepandaian bukanlah dimaksudkan untuk mencari permusuhan, tapi bahkan sebaliknya, membinasakan segala kejahatan, bukankah demikian? Kalau permusuhan didendamkan makin mendalam hingga terjadi balas membalas, siapakah yang rugi? Tak lain kita sendiri karena di dunia ini tidak ada orang terpandai!" Bu Beng heran mendengar kata-kata yang lancer dan berisi itu, karena melihat orangnya yang kecil pendek itu tak tersangka dapat bicara demikian panjang lebar dan penuh isi. Dan terpaksa ia membenarkan uraian tadi dan berkata.

"Lo-Enghiong benar sekali, siauwte juga akan merasa gembira sekali jika hal ini dapat dibereskan secara damai." Melihat perkembangan urusan ini hati Tan Tek Seng menjadi lemah. Sejak tadipun, setelah melihat betapa Ang Hwat Tojin yang ia andalkan dapat dijatuhkan oleh tangan kawan Lui Im, ia sudah merasa putus harapan untuk mempertahankan namanya. Harapan satu-satunya tinggal kepada Lo Sam yang ia tahu betul kehebatannya. Tapi kini mendengar kata-kata pengemis pendek kecil itu, lenyaplah harapan satu-satunya. Ia tahu diri maka segera ia maju dan menjuru kepada Lo Sam sambil berkata,

"Memang ucapan Lo-Enghiong tadi sangat tepat. Aku mengaku salah telah terlibat dalam pertempuran anggota-anggotaku yang tak berarti hingga terjadi bentrokan dengan Lui Pangcu. Tapi karena kesalahan terletak dikedua pihak yang tidak mau mengalah hingga aku meminta bantuan Ang Hwat Tojin dan Lo-Enghiong sendiri sedangkan di pihak Lui Pangcu juga minta bantuan Bu Beng Taihiap yang tinggi ilmu kepandaiannya ini, hatiku merasa sangat penasaran sebelum menyaksikan pihak manakah yang lebih hebat kawannya. Ang Hwat Tojin sudah terkalahkan tapi aku masih ada Lo-Enghiong yang datang kesini atas undanganku. Maka aku yang bodoh mohon dengan sangat untuk menambah pengetahuanku yang rendah, sudilah Lo-Enghiong melayani Bu Beng Tahiap bermain-main sebentar secara sahabat. Jika Bu Beng Tahiap yang masih muda tapi sangat hebat ini ternyata lebih unggul daripada Lo-Enghiong, maka denan rela aku akan minta maaf lebih dulu kepada Lui Pangcu. Sebaliknya jika Bu Beng Taihiap tak dapat mengalahkan kepandaian Lo-Enghiong, sudah sewajarnya kalau Lui Pangcu yang minta maaf lebih dulu dan kami berdua selanjutnya menghabiskan permusuhan ini dan melanjutkan persahabatan semula. Bagaimana pendapatmu Lui Pangcu?" Lui Im yang sejak tadi sangat kagum melihat kehebatan Bu Beng, dan ia mengerti pula bahwa Lo Sam bukanlah orang sembarangan, maka iapun ingin sekali melihat kedua orang ini mengadu ilmu agar ia dapat menyaksikan untuk menambah pengalaman. Melihat sikap tan Tek Seng yang tiba-tiba berubah manis, iapun bergembira dan sambil tersenyum ia berkata,

"Setuju, setuju! Tapi tentu saja saya tidak dapat dan tidak berani memaksa Bu Beng Taihiap saya hanya mengharapkan persetujuannya saja." Lo Sam tertawa tergelak-gelak.

"Ah, ah memang kedua Pangcu ini jahat dan usilan! Memaksa aku yang tua dan Bu Beng Taihiap yang hebat ini akan dijadikan jago aduan dan mereka berdua dengan enak bertaruhan? Ah, tak beres, tak beres!" Bu Beng tersenyum dan sambil menggeleng-gelengkan kepala berkata,

"Ah, mana berani siauwte berlawan tangan dngan Lo Sam Lo-Enghiong? Sudah lama siauwte mendengar kehebatannya, bagaimana siaute dapat menandinginya? Lui Pangcu sebaiknya kau saja yang mengalah dan minta maaf lebih dulu untuk menjaga mukaku!"

"Ha, ha kau sungguh tahu diri dan pandai merendahkan diri, sobat muda," kata Lo Sam.

"belum tentu lohu dapat mengalahkanmu. Kulihat kepandaianmu lebih tinggi daripada Kim Kong Tianglo suhengmu itu. Mari, biarlah kita menjadi dua pelawak sebentar dan memenuhi kehendak kedua Pangcu yang jahat ini." Bu Beng terpaksa maju menghampiri dan memasang bheksi pertahanan dengan sikap mempersilakan orang tua itu bergerak dulu. tapi Lo Sam sambil memperdengarkan suaranya yan nyaring menggoyang-goyangkan tongkatnya dan berkata,

"Anak muda, kiam hoatmu tadi kulihat hebat sekali, kalau tidak salah itu adalah Kim liong kiamhoat maka cabutlah pedangmu, biar kucoba dengan tongkat usangku ini." Bu Beng terpaksa mengeluarkan pokiamnya dan lagi-lagi memasang kuda-kuda pertahanan.

bersambung ke jilid 4


 

Cerita Silat Kho Ping Hoo : Jago Pedang Tak Bernama 2/5


Jago Pedang Tak Bernama
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02

"Saudara Sim, aturan ini tak mungkin dilaksanakan. Bukannya aku yang rendah tidak menghargai penghormatan yang kauberikan ini, bahkan aku merasa sangat berterima kasih atas perhatian Sim hiante kepada anakku yang bodoh. Tapi apa hendak dikata, anakku sekarang telah bertunangan dengan orang lain."

"Tidak menurut aturan!" cela Sim Tek Hin.

"Bukankah lopek telah menerapkan sendiri bahwa calon mantu harus pemenang sayembara? Nah biarkan aku melawan dan mencoba kepandaian Thio Bun itu, lihat siapa yang lebih unggul."

"Hal ini menyesal sekali tak mungkin diadakan," bantah Lim San.

"Lim twako, kau sejak dulu ingin mempunyai mantu seorang yang lumayan ilmu silatnya. Masakan kini ingin mengambil mantu seorang yang terhadap anakku saja tidak berani melawan?"

"Biarlah siauwte melawannya!" tiba-tiba Thio Bun yang sejak tadi diam saja di sudut membuka suara dan berdiri.

"Tidak!" bantah Lim San yang tahu bahwa orang she Thio calon mantunya itu bukan tandingan Sim Tek Hin.

"Kuakui bahwa calon mantuku itu biarpun semangatnya besar, namun kepandaiannya belum cukup untuk melawan Sim hiante. Biarlah kucarikan wakilnya."

"Siapa wakilnya? si Bu Beng siauwcut?" tiba-tiba si Huncwe Maut Song Leng Ho berdiri dan mengepulkan asap dari mulut dan hidungnya. Lim San menengok kesana kemari, tapi ternyata penolong yang ditunggu-tunggu itu belum tampak mata hidungnya. Terpaksa ia berkata,

"Aku sendirilah wakilnya, untuk menolong anak dan calon mantu."

"Ho ho! Bagus kalau begitu. Akupun akan meniru contohmu, orang she Lim biarlah aku mewakili anakku." Kata Sim Boan Lip sambil berdiri menantang. Lim San merasa tidak ada jalan keluar lagi, maka ia segera berkata.

"Terserah padamu, marilah kita pergi ke ruang silat." Beramai-ramai mereka menuju ke ruang main silat yang berada di samping rumah. Tiba-tiba tampak Lim Giok Lan muncul dengan pakaian ringkas membawa pedang.

"Ayah, biarkan anakmu bertempur mati-matian melawan pengacau-pengacau ini!" katanya penuh semangat. Ayahnya kagum melihat keberanian puterinya, tapi ia memberi tanda supaya anaknya mendur. Juga Lim Seng yang kelihatan membawa-bawa pedang ia perintahkan berdiri di pinggiran saja. Lim San meloncat ke tengah-tegah ruangan itu dan berkata,

"Silakan memberi petunjuk kepadaku. Sim Enghiong." Sim Boan Lip segera melepas baju luarnya dan meloncat menghadapi lawannya.

"Mari, marilah, kita coba-coba tua sama tua." Dan ia membuka bhesinya dari ilmu silat San coa ciang yang lihai. Pada saat itu entah dari mana datangnya, tiba-tiba tampak berkelebat bayangan orang dan Bu Beng Kiam Hiap tahu-tahu berdiri di antara kedua jago tua itu sambil tersenyum tenang.

"Lim San Lo-Enghiong, siauwte masih belum tinggalkan kota ini dan sampai sekarangpun siauwte masih menjadi wakilmu dalam permainan yang menggembirakan ini. biarlah siauwte menambah pengertian dari para Lo-Enghiong ini. Diam-diam hati Lim San yang tadinya tegangdan cemas menjadi gembira kembali karena ia percaya akan kepandaian anak muda itu yang sesungguhnya masih jauh diatas kepandaiannya sendiri. Maka sambil menjuru berterima kasih ia mundur ke pinggiran.

"Inilah bangsat itu, ayah!" teriak Sim Tek Hin dari pinggir.

"Oo, kau kah biang keladinya?" Bu Beng menyindir sambil memandang pemuda she Sim itu dengan tajam.

"Dan kau kah Bu Beng Kiam Hiap? Bagus, bagus! Aku sudah mendengar kehebatanmu dari puteraku. Memang kami datang ini sebenarnya ingin sekali merasakan kelihaianmu!"

"Lo-Enghiong. Kita belum pernah bertemu muka, juga belum pernah bentrok dalam hal apa saja. Tapi mengapa Lo-Enghiong jauh-jauh datang mencari siauwte yang muda ini?" Tanya Bu Beng.

"Jangan berlagak bodoh! Bukanlah kau telah menghina anakku?"

"Sama sekali tidak, Lo-Enghiong. Sudah lazim jika di dalam pertandingan di panggung luitai kalau tidak menang tentu kalah." Sim Boan Lip salah sangka. Ia kira anak muda itu takut padanya, maka ia menjadi besar hati.

"Orang muda, jangan kwawatir. Aku hanya ingin lihat dari siapakah kau memperoleh ilmu silat dengan melihat gerakanmu sejurus dua jurus saja," katanya.

"Kalau begitu selakan Lo-Enghiong menyaksikannya," kata Bu Beng yang lalu memasang bhesi dengan berdiri di tumitnya lalu menggeser tubuhnya maju, tapi anhnya kedua lengannya tertempel di pinggang rapat-rapat, sama sekali tidak memukul seperti lakunya orang bersilat. Kemudian ia menggeser ke kiri dan kedua lengannya dibuka seakan-akan terbang. Beberapa kali ia bergerak lalu kembali berdiri lempeng ditempat semula sambil tersenyum.

"Nah, Lo-Enghiong. Siauwte telah bergerak empat jurus. Tentu sekarang Lo-Enghiong telah tahu ilmu silat apakah yang pernah siauwte pelajari," katanya. Wajah Sim Boan Lip menjadi merah. Ia merasa dipermainkan orang, karena seumur hidupnya belum pernah ia lihat gerakan tipu selat seperti itu. Bahkan empat orang kawannya sama sekali tidak tahu ilmu silat apakah yang tadi diperlihatkan oleh anak muda itu. Dengan marah ditahan Sim Boan Lip berkata,

"Bagus! Tapi dapatkah ilmu silat macam ini dapat bertempur?"

"Tentu dapat, Lo-Enghiong."

"Nah, coba tangkis seranganku dengan ilmu silatmu itu," kata orang tua itu sambil maju menyerang dengan ilmu gerakan Ular Gunung Menyambar, semacam ilmu dari San coa ciang yang lihai. Tangan kanannya mengarah ulu hati lawan tapi sampai di tengah jalan tangan kanan itu ditarik kembali lalu disusul oleh tangan kiri memukul iga! Bu Beng berseru "Aya" sambil dengan gerakan lincah tapi lucu berkelit menghindari pukulan itu.

"Hebat sekali pukulanmu, Sim Lo-Enghiong!" katanya masih tersenyum. Sim Pangcu menjadi marah sekali. Kembali ia menyerang dengan sengit sampai empat jurus, tapi semuanya dapat dikelit oleh Bu Beng.

"Balaslah menyerang!" teriaknya gemas.

"Sabarlah, Lo-Enghiong. Siauwte terdesak oleh seranganmu. Baiklah sekarang siauwte menyerang!" kata-kata ini ditutup oleh serangan tangan kiri kearah leher, bukan memukul tapi membabat dengan tangan miring. Belum juga ditangkis lawan, tangan itu mengubah gerakan, kini menyodok kearah perut, dan sebelum ditangkis lalu berubah pula terkepal memukul dada! Aneh dan cepat gerakan ini, tapi biarpun kalah dulu, Sim Pangcu ingin mencoba tenaga orang, maka ia kerahkan tenaga di lengan kanan dan menangkis pukulan itu "Plak" dan Sim Pangcu merasa tangan kanannya tergetar keras. Sedangkan lengan pemuda itu tidak apa-apa dan terus menghantam dadanya perlahan. Untung pemuda itu hanya menepuk saja, tapi cukup membuat ia merasa dadanya pedas sekali. Sim Pangcu terkejut dan meloncat mundur dua tindak.

"Ilmu silatmu baik sekali, anak muda. Marilah kita coba-coba main senjata," tantangnya sambil menghunus pedang. Sebetulnya Bu Beng merasa kuat untuk menghadapi lawan ini dengan bertangan kosong, tapi ia tidak mau menghina lawannya yang tua dan ternama itu, maka iapun ulurkan tangan di belakang leher, dan tahu-tahu sebilah pedang tipis sekali berada dalam tangannya! Pedang itu pendek dan tipis hingga ketika disembunyikan di punggung tidak kelihatan dari luar.

"Silakan Lo-Enghiong," katanya dengan masih tersenyum. Melihat pedang lawan yang pendek itu, hati Sim Pangcu menjadi besar. Masakan ilmu pedangnya yang terkenal itu akan kalah oleh seorang pemuda berpedang pendek. Ia segera menyerang dengan hebat sekali, mengeluarkan tipu-tipu paling berbahaya dari ilmu pedang San coa kiam.

Pedangnya berputar cepat menutupi seluruh tubuhnya sampai menimbulkan angin dingin bersiutan dan mata pedang merupakan bundaran putih berkeredepan. Tapi Bu Beng berdiri saja tidak bergerak, seakan-akan menonton pertunjukan pedang yang hebat itu. Hanya kalau sewaktu-waktu sinar pedang lawan menyambar ke arahnya, ia gerakkan pedangnya sekali untuk menangkis.! Tapi, biarpun Bu Beng hanya menangkis dengan gerakan sembarangan saja, Sim Pangcu kaget sekali, karena tiap kali pedangnya terbentur pedang pendek lawan, pedang itu terpental dan mengeluarkan bunyi nyaring serta titik-titik bunga api! Melihat gerakan Bu Beng yang seakan-akan hanya main-main saja dan sedikitpun tidak pandang mata terhadap ilmu pedangnya, Sim Boan Lip marah sekali. Gerakan-gerakannya dirobah menjadi rangsekan hebat, tiap gerakan merupakan serangan-serangan maut.

Kala tadi ia berlaku hati-hati dan tiap kali menyerang selalu disertai gerakan menjaga diri karena tahu akan kelihaian lawan, kini aia nekad dan pusatkan gerakannya kepada serangan belaka. Bu Beng juga tak dapat tinggal diam menghadapi serangan-serangan hebat dan berbahaya itu. Ia mulai menggerakkan kaki dan tubuhnya berkelebat kesana kemari untuk menangkis dan menghindarkan pedang lawan. Pada suatu saat, setelah menyerang lebih dari tiga puluh jurus, Sim Pangcu gerakan tipu Ular Luka Mengamuk. Ia menusukkan pedangnya kea rah tenggorokan Bu Beng dan ketika Bu Beng berkelit, ujung pedangnya mengikuti gerakan pemuda itu dan terus mengejar dengan sabetan-sabetan panjang dari kiri ke kanan bolak balik dan dari atas menggeser makin ke bawah.

Pendeknya, serangan nekad yang dilakukan beruntun dengan sabetan-sabetan mebabi buta! Bagi orang lain jika menghadapi serangan ini tentu akan menjadi repot dan gugup, karena pedang itu seakan-akan menjadi berpuluh-puluh yang menyerang dengan keluarkan suara bersiutan. Tapi Bu Beng yang berkepandaian tinggi dapat berlaku tenang. Untuk menghadapi serangan ini, jalan satu-satunya baginya ialah gunakan kecepatan yang melebihi kecepatan lawan. Maka tiba-tiba pedang pendeknya berputar cepat sekali hingga tubuhnya lenyap tertutup sinar pedang. Sim Pangcukehilangan tubuh lawannya karena yang diserangnya seakan-akan sembunyi di balik ratusan pedang hingga tiap tusukan pedangnya seakan-akan ada tiga pedang pendek lawan yang menangkisnya.

Ia menjadi pening dan tiba-tiba saja lengannya yang memegang pedang kena tertendang oleh Bu Beng dan pedangnya terlempar keatas, kemudian ketika turun disampok oleh pedang pendek Bu Beng. Senjata itu kena tersampok gagangnya lalu berputar dan mencelat ke atas lagi. Demikian keras sampokan itu hingga pedang Sim Pangcu melayang cepat dan menancap di kayu usuk yang melinang dibawah genteng. Sim Pangcu menjadi kaget sekali. Sedikitpun ia tak mengerti betapa cara Bu Beng menggunakan kakinya untuk menendang. Pedangnya tadi berputar cepat sekali, namun kaki pemuda itu dapat mendahului putaran pedang untuk menendang pergelangan lengannya. Ia loncat mundur dengan wajah pucat. Bu Beng tahan gerakannya dan berdiri mengangkat kedua tangan dengan sikap merendah.

"Lo-Enghiong telah mengalah terhadapku," katanya. Sebelum Sim Pangcu dapat membuka mulut, tiba tiba Song Leng Ho si Huncwe Maut telah loncat dengan gerakan ringan sekali kehadapan Bu Beng. Ia isap Huncwenya dan mengepulkan asap yang hitam kebiru-biruan kearah muka Bu Beng. Pemuda itu mencium bau yang harum dan amis, maka segera ia tutup jalan pernapasannya karena ia maklum bahwa asap itu bukan lah asap sembarangan, tapi asap yang emngandung racun melemahkan.!

"Ha ha, ha!" si Huncwe Maut bergelak tertawa, "Bu Beng Kiam Hiap yang gagah perkasa ternyata takut asap Huncweku." Bu Beng tersenyum manis, tapi sinar matanya tajam menatap orang jumawa itu.

"Pernah kudengar tentang Huncwe maut itu. Sungguh beruntung hari ini aku yang muda dapat berjumpa dan merasai kelihaiannya Huncwe itu." Kata-kata ini biarpun halus tapi mengandung tantangan. Song Leng Ho tiba-tiba menghentikan tawanya dan bekata kasar.

"Anak muda, pantas saja kau berani kurang ajar. Ternyata kau mempunyai kepandaian berarti juga. Tapi, jangan kau kira bahwa kau sudah berdiri di puncak tertinggi hingga tiada orang yang lebih tinggi darimu. Sekarang, berhadapan dengan aku si orang tua pemadatan kau harus berani berlaku sembarangan. Hayo katakana siapa gurumu agar aku dapat memandang muka gurumu dan tidak menurunkan tangan jahat kepadamu."

"Song Lo-Enghiong. Bukanlah aku yang muda berlaku kurang ajar kepada kau orang tua. Tapi sebaliknya, kaulah orang tua yang tidak mengalah terhadap yang muda. Telah berkali-kali kukatakan bahwa aku adalah seorang muda biasa, bahkan nama saja aku tak punya. Kini kau tanyakan guruku, siapakah guruku itu? Kalau toh ada guruku, nama beliau itu takkan kuobral dan kugunakan untuk mencari nama."

"Hm, hm!" Song Leng Ho mengeluarkan suara dari hidung sambil keluarkan asap Huncwe dari hidungnya merupakan dua gulungan bagaikan ular melingkar-lingkar ke atas.

"Aku selamanya pandang muka orang-orang kang ouw. Tapi karena disini terdapat banyak hohan menjadi saksi, biarlah aku yang tua memberi ajar adat padamu. Hendaknya para Lo-Enghiong menjadi saksi agar kelak guru anak muda ini tidak menyalahkan padaku, karena dia sendirilah yang tidak mau memberitahukan nama gurunya. Nah, Bu Beng siauwcut bersiaplah, lohan ingin sekali coba kepandaianmu."

"Silakan, aku ingin sekali merasai panasnya Huncwemu." Jawab Bu Beng dengan berani. Song Leng Ho si Huncwe Maut ini sebenarnya adalah seorang ahli cabang Bu Tong San. Cabang Bu tong terkenal dengan ilmu pedangnya yang lihai, tapi orang she Song ini memilih senjata berupa Huncwe itu. Walaupun Huncwe itu kecil kurus hingga cocok sekali dengan tubuhnya yang kurus kering,

Namun untuk puluhan tahun lamanya senjata itu telah merobohkan entah berapa banyak jagoan di kalangan kang ouw dan jarang sekali menemukan tandingannya. Huncwe yang terbuat dari logam hitam kehijau-hijauan dan menjadi mengkilap karena panas api dan sari tembakau itu dapat digunakan untuk menotok jalan darah. Selain itu, tembakau yang dinyalakan di Huncwe itu bukanlah tembakau sembarangan, tapi tembakau istimewa buatannya sendiri dari daun-daun disertai ramuan obat yang asapnya merupakan senjata luar biasa, karena asap yang hitam kehijau-hijauan itu ternyata adalah berbahaya sekali, mengeluarkan bau harum dan amis dan kalau tersedot lawan dapat melemahkan semangat dan tenaga! Namun orang she Song itu sendiri tidak terganggu oleh asap beracun itu, karena ia telah lebih dulu makan obat penawarnya.

Setelah mendengar jawaban Bu Beng, si Huncwe Maut segera pasang kuda-kuda, kedua kaki berdiri rapat, ujung kaki kiri berjongkok dan menindih ujung kaki kanan, tubuhnya agak membongkok, tangan kiri dengan jari-jari tegang ditaruh miring di depan dada, sedangkan tangan kanan memegang kepala Huncwe yang masih tertancap di mulut. Sementara itu, asap masih mengepul-ngepul dari ujung mulut dan lubang hidungnya. Sikap dan gerakannya aksi sekali hingga membuat mereka yang melihatnya menjadi kagum. Agaknya hal ini diketahui pula olehnya, karena ia menggerak-gerakkan kedua biji matanya yang kecil untuk melirik kesana kemari dan memandang ke arah Bu Beng dengan mulut mengandung ejekan. Bu Beng mendongkol juaga melihat lagak lawan, maka ia tidak sungkan sungkan lagi. Setelah berkata,

"Maafkan aku bergerak terlebih dahulu," ia memajukan kaki menyerang dengan tangan kiri, sedangkan pedang pendek di tangan kanannya masih disembunyikan di belakang lengan. Si Huncwe Maut mencabut Huncwenya dan dengan berseru.

"Haya!" ia berkelit ke samping sambil gerakkan kaki. Gerakannya memang lemas sekali, tubuhnya melengkok-lengkok bagaikan tubuh seorang perempuan. Bu Beng maklum bahwa si kurus itu sengaja berlagak atau sengaja hendak memanaskan hatinya. Tiba-tiba ia ingat bahwa si Huncwe maut adalah seorang ahli totok, maka kalau ia sampai tak dapat menahan perasaannya dan menjadi marah karena diejek itu, berbahaya sekali menghadapi lawan tangguh ini. karena itu, tiba-tiba ia mundur dua langkah an berdiri biasa dengan tubuh tegak, sedangkan kedua matanya menatap lawan bagaikan orang yang sedang nonton sesuatu yang lucu.

"Hei, ayo serang, anakku!" lawannya mengejek, tapi Bu Beng tiba-tiba tertawa geli.

"Ah, aku lebih senang menonton seorang badut yang berlagak," jawabnya.

"Sungguh gerakanmu lucu dan menarik. Biarlah kalau sudah main nanti aku ikut memberi hadiah beberapa potong uang perak." Song Leng Ho marah sekali dan tidak dapat menerima hinaan ini. kulit mukanya menjadi merah dan ia hentikan gerakan-gerakannya yang lemah gemulai.

"Baiklah kau sendiri yang cari mampus," katanya, lalu ia menyerang maju dengan hebat. Huncwenya diayun cepat mengarah leher Bu Beng. Kini Bu Beng lah yang mempermainkannya. Anak muda itu berkelit ke kiri dan menyampok Huncwe itu dengan pedang pendeknya. Ia mendapat kenyataan bahwa tenaganya masih tidak kalah oleh lawannya, karena dalam bentrokan itu ia dapat mengukur tenaga lawan.

Sebaliknya bentrokan itu membuat Song Leng Ho sadar bahwa lawannya yang masih muda itu, selain bertenaga kuat, juga memiliki senjata pusaka, karena tidak sembarangan senjata dapat menahan Huncwenya yang terbuat dari baja hitam. Maka ia tidak berani pandang ringan lawannya dan berkelahi dengan hai-hati. Tapi setelah bergebrak lima enam jurus tahulah Bu Beng bahwa si kurus ini hanya lagaknya saja yang hebat. Tentang kepandaian, hanya sedikit lebih tinggi dari Sim Pangcu, maka ia tidak merasa khawatir dan gunakan kelincahan gerakannya mempermainkan lawan itu sambil berkelit gesit kesana kemari. Karena ternyata sekian banyak serangan serangannya hanya mengenai angin , Song Leng Ho merasa penasaran dan gemas sekali.

Tiba-tiba ia menyerang dengan totokan kearah jalan darah di rusuk kanan Bu Beng dan satu serangan itu dibarengi dengan tendangan maut kearah tubuh lawan! Dua gerakan dalam serangan maut ini masih ditambah lagi dengan semburan asap hitam penuh racun kearah muka Bu Beng. Ini sungguh merupakan serangan hebat dan nekat. Melihat serangan kejam dan yang semata-mata dilakukan oleh orang yang menghendaki jiwanya, Bu Beng menjadi marah. Ia berseru keras dan menggunakan tenaga dalamnya meniup kearah asap yang menyambar mukanya hingga asap itu buyar dan terbang kembali. Terhadap serangan Huncwe dan tendangan Bu Beng berlaku lebih keras lagi. Ia gunakan pedang pendeknya menyampok dengan sepenuh tenaga sehingga terdengar suara keras. Dan Huncwe itu terlepas dari tangan si Huncwe Maut yang merasa tangannya pedas dan panas,

Terlempar jauh dan jatuh ke atas lantai mengeluarkan suara berkerontangan, dan Bu Beng miringkan tubuh menghindarkan tendangan, berbareng majukan tangan kiri menghantam dada lawan, Song Leng Ho berteriak ngeri dan tubuhnya terpental ke belakang lalu jatuh berdebukan dengan mata terbalik dan dari mulut mengeluarkan darah.! Hut Bong Hwesio, Pok Thian Beng dan Lui Im yang sejak tadi melihat jalannya pertempuran dengan penuh rasa tegang, ketika melihat Song Leng Ho menggunakan tipu serangan maut tadi telah merasa menyesal dan terkejut sekali, tapi mereka tak sempat mencegah. Kini melihat betapa si Huncwe Maut itu terluka hebat, mereka cemas sekali. Bu Beng juga merasa menyesal karena ia telah memberi pukulan demikian hebat. Segera ia meloncat mendekati tubuh Song Leng Ho yang terbujur di atas tanah.

Ketika ia sedang membungkuk, tiba-tiba dari belakangnya menyambar angin dingin. Ia tahu bahwa ada orang yang menyerangnya dari belakang, tapi tanpa menoleh, ia angkat tangan kiri menyampok. Segera tangannya beradu dengan tangan Hut Bong Hwesio yang sebenarnya salah menyangka ia hendak mencelakakan Song Leng Ho dan turun tangan menceah. Ketika kedua tangan beradu, Hut Bong Hwesio terhuyung ke belakang tiga tindak. Hwesio itu meramkan mata dan mengatur napas, dan mukanya menjadi merah karena malu ketika melihat betapa pemuda itu menggunakan jari telunjuknya menotok jalan darah Hui hing ciat untuk menyembuhkan luka dalam Song Leng Ho yang terpukul olehnya tadi. Setelah selesai menolong jiwa Song Leng Ho, Bu Beng berdiri memandang penyerangnya tadi. Hut Bong Hwesio rangkapkan kedua tangan lalu menghela napas.

"Ah, sungguh tak tersangka pemuda ini telah memiliki tenaga dan kepandaian sempurna. Pinceng mengaku kalah, harap Bu Beng Taihiap maafkan kesembronoan pinceng tadi." Kemudian sambil menjuru kepada Sim Pangcu, Hwesio itu berkata,

"Sim Pangcu, pinceng mohon diri, karena pinceng tak dapat membantu. Maafkanlah." Tanpa menanti jawab, Hwesio itu segera tinggalkan tempat itu dengan tindakan cepat. Lim San yang melihat semua itu, segera maju dan menjuru kepada Sim Pangcu.

"Saudara Sim, aku mohon kau suka habiskan saja pertunjukan-pertunjukan ini. marilah masuk dan minum arak bersama agar hubungan kita baik kembali seperti sedia kala. Janganlah hendaknya soal salah paham kecil ini dijadikan dasar perkelahian yang membahayakan jiwa." Sim Boan Lip tersenyum lemah.

"Kau benar, saudara Lim. Memang seharusnya kami mengalah karena kau mempunyai pelindung yang demikian gagahnya." Ia berkata penuh sindiran tajam.

"Mengalah?" seru Sim Tek Hin sambil bertindak maju.

"Tidak! biar bagaimana juga orang tua she Lim harus pegang teguh janjinya. Kalau ayah dan para LoCianpwe tidak mau membelaku, sepantasnya aku menuntut balas atas penghinaan yang dijatuhkan kepada Song LoCianpwe! Song LoCianpwe adalah tamu kita, pembela dan kawan kita, kini setelah ia dihina oleh Bu Beng siauwcut itu, haruskah kalian tinggal peluk tangan belaka? Apakah ini boleh diartikan bahwa ayah dan jiwi Cianpwe jerih dan takut padanya?" sambil berkata begitu Sim Tek Hin memandang tajam kepada ayahnya dan kepada Pok Thian Beng si Tangan Besi, lalu mengerling kepada Lui Im si Golok Setan. Panas juga hati Pok Thian Beng mendengar sindiran Sim Tek Hin ini. maka dengan langkah lebar ia menghampiri Bu Beng yang memandang semua itu dengan berdiri sambil berpeluk tangan.

"Anak muda, telah kulihat bahwa kau memiliki kepandaian tinggi dan tenaga besar. Berilah ketika padaku utnuk mencobanya." Bu Beng menjuru dengan hormat.

"Maaf, Lo-Enghiong. Bolehkah saya mengetahui nama dan gelaran Lo-Enghiong yang mulia?" Melihat sikap dan kesopanan anak muda itu, hati Pok Thian Beng telah mulai menyesal mengapa ia mudah saja dibakar oleh Sim Tek Hin. Tapi karena sudah terlanjur, ia menjawab juga.

"Aku adalah Pok Thian Beng."

"Ah, jadi Lo-Enghiong adalah si Tangan Besi? Sungguh beruntung saya yang bodoh dapat berjumpa dengan Lo-Enghiong yang telah lama kukagumi." Jawab Bu Beng. Tapi Pok Thian Beng yang jujur tidak jadi sombong bahwa anak muda itu telah mendengar nama besarnya, bahkan ia khawatir kalau-kalau nama besar itu sebentar lagi akan hancur oleh anak muda yang agaknya baru saja muncul dalam kalangan kang ouw hingga namapun tidak punya!

"Anak muda, kita tak pernah bermusuhan maka marilah kita main-main sebentar, sekadar belajar kenal," katanya demikian dan Sim Tek Hin yang mendengar percakapan saling merendah ini menjadi tidak puas.

"Pok Lo-Enghiong. Apakah perlunya kita menonjolkan kepandaian? Saya sudah cukup percaya akan kelihaianmu dan haruskah perkenalan ini dikotori oleh adu tenaga? Bantah Bu Beng.

"Hm, hm, Bu Beng Kiam Hiap. Agaknya kau jerih terhadap Pok Cianpwe, ha ha!" Sim Tek Hin mengejeknya.

"Hayo, Bu Beng Taihiap, layanilah aku barang dua tiga jurus. Kalau tidak, maka tentu kau atau aku akan dianggap pengecut." Pok Thian Beng mendsak, hingga apa boleh buat Bu Beng siap melayaninya. Tapi karena ia maklum akan ketulusan Pok Thian Beng dan tahu bahwa orang itu hanya menjadi kurban kelicikan keluarga Sim, ia tidak hendak mencelakakan atau membikin malu kepadanya.

"Awas pukulan," Pok Thian Beng berseru sambil maju menyerang dalam tipu Hong tan tiam cie atau burung Hong pentang sayap langsung memukul kea rah iga Bu Beng.

Anak muda itu berkelit dengan gesit, tapi segera datang pula serangan dari si Tangan Besi dengan gerakan Hek houw to sim atau Macan hitam menyambar hati. Bu Beng adlah seorang pemuda yang penuh keinginan meluaskan pengalaman, maka tidak akan puas hatinya kalau belum mencoba sesuatu yang telah didengarnya. Telah lama ia mendengar akan kehebatan lengan tangan Pok Thian Beng yang dijuluki si Tangan besi, maka kini melihat tangan kanan lawan menyambar kearah ulu hatinya, ia segera kumpulkan tenga mengepul tangan dan gunakan tangannya itu memukul kedepan dan memapaki datangnya pukulan lawan. Si Tangan Besi terkejut melihat kecerobohan lawan yang msih muda ini. ia tidak mau membikin anak muda itu celaka dan ia yakin bahwa jika mereka beradu tangan, pasti anak muda itu sedikitnya akan terpatah lengnnya.

Tapi, karena untuk menarik kembali kepalannya sudah tak sempat lagi, maka ia hanya dapat mengurangi tanaganya dan hanya gunakan setengah saja. Dua kepalan tangan bertemu dan "DUK!" kedua-duanya merasa betapa sebuah tangan besar bertemu dengan tangan masing-masing. Karena si Tangan Besi hanya gunakan setengah tenaganya dan berbareng itu Bu Beng sendiri yang sangat percaya akan tenaga sendiri juga kurangi tenaga pukulannya, maka si Tangan Besi lah yang kalah tenaga dan terhuyung-huyung mundur sampai lima tindak, sedangkan Bu Beng hanya mundur dua tindak. Pok Thian Beng memandang kagum dan penasaran. Ia si Tangan Besi yang terkenal dan jarang terlawan kekuatannya kini terpukul mundur oleh anak muda ini? ia menyesal mengapa tadi tidak kerahkan semua tenaganya!

Dan masih menganggap bahwa kekalahannya itu karena ia tadi hanya menggunakan setengah tenaga. Maka ia merangsek kembali karena belum puas. Bu Beng tidak mau dianggap tidak pandang sebelah mata kepada musuh yang dihormati itu, maka iapun balas menyerang.ketika Bu Beng dengan pukulan Kim liong tam jiauw atau Naga mas mengulur kuku memukul kearah lambung, tibalah giliran si Tangan Besi untuk mengukur tenaga lawan. Ia kerahkan seluruh tenaganya untuk menangkis. Kembali dua telapak tangan beradu, kini lebih hebat karena Pok Thian Beng gunakan semua tenaga sedangkan Bu Beng juga pusatkan tenaganya di lengan. Akibat tumbukan tenaga itu, Pok Thian Beng rasakan lengannya kesemutan dan Bu Beng juga rasakan kulit tangannya panas. Anak muda itu segera barengi meloncat mundur sambil berkata.

"Pok Lo-Enghiong sungguh tidak percuma bergelar Tangan Besi. Siauwte mengaku kalah." Katanya sambil memberi hormat. Pok Thian Beng makin kagum melihat kesopanan pemuda itu. Ia tertawa dengan gembira.

"Ha ha. Tidak kecewa aku datang kesini dan dapat mengagumi orang muda seperti kau. Tidak malu aku mengaku bahwa kalau kau mau, mudah saja bagimu untuk menjatuhkan aku. Kalau aku mempunyai tangan besi, maka kau mempunyai tangan baja, Bu Beng Kiam Hiap!" kemudian kepada Sim Boan Lip dan Sim Tek Hin ia menjuru.

"Terima kasih atas undangan jiwi. Tapi aku yang bodoh dan tidak berguna ternyata tak dapat membantu apa-apa. Terserah kepadamu, jiwi, tapi menurut pendapatku yang bodoh, lebih baik persolan kecil ini dihabiskan saja."

"Ah, Pok Cianpwe mengapa merendahkan nama kita sendiri? Terang sekali Pok Cianpwe berlaku mengalah terhadap pemuda sombongini, tapi mengapa berkata demikian. Pula Lui Im losuhu juga berada disini apakah orang tidak pandang mata kepadanya," berkata Sim Tek Hin. Mendengar teguran ini, Pok Thian Beng memandangmarah.

"Hm, bagus, Sim hiante. Jadi undanganmu kepada kamidulu itu hanya untuk mengadu kami dengan orang-orang lain? Jadi hanya untuk memperalat kami. Terimakasih dan sampai jumpa pula." Sambil berkata begitu, Pok Thian Beng balikkan tubuh hendak meninggalkan empat ini. tapi sekali loncat, Lui Im telah berada di sebelahnya dan pegang lengannya.

"Eh, Pok twako, jangan pergi dulu. tunggu aku ajar kenal dulu dengan Bu Beng Kiam Hiap." Si Tangan Besi memandang dan tersenyum lalu duduj di atas sebuah bangku dengan sikap tidak perduli kepada orang she Sim itu. Lui Im yang bertubuh pendek kecil itu segera mendekati Bu Beng.

"Bu Beng Kiam Hiap, kau sebagai seorang hohan tentu suka berlaku adil. Kami semua datang kesini dan sudah belajar kenal dengan kelihaianmu, hanya aku seorang yangbelum . maka janganlah bikin aku penasaran dan berilah sedikit pengajaran padaku." Bu Beng memberi hormat,

"Mana aku yang muda berani memberi pengajaran? Sebaliknya, siauwte masih mengharapkan petunjuk-petunjuk darimu." Lui Im cabut golok dari punggungnya dan kelebat-kelebatkan itu beberapa kali. Melihat ini, Bu Beng terkejut.

"Bukankah Lo-Enghiong ini Pangcu dari Cung lim pang yang bernama Lui Im Lo-Enghiong?" tanyanya. Lui Im terkejut juga. Bagaimana pemuda yang tak dikenalnya ini dapat mengenlnya?

"Eh, Dari mana kau tahu nama dan kedudukanku, anak muda?" Bu Beng memberi hormat.

"Maaf, karena siauwte tadi tidak tahu berhadapan dengan siapa. Tidak tahunya berhadapan dengan seorang sahabat baik dari suhengku."

"Siapa suhengmu itu?"

"Suhengku ialah Kim Kong Tianglo dari Liong san." Lui Im menggerakkan tangan kanannya dan tiba-tiba goloknya menancap diatas tanah dan gagangnya bergerak-gerak menggetar.

"Kim Kong Tianglo? Kau... sutenya? Aneh. Sungguh aneh! Kemudian ia berdiri termangu-mangu karena sesungguhnya ia pernah mendengar dari Kim Kong Tianglo sendiri bahwa pendeta tua itu mempunyai seorang sute yang gagah, tapi masakan sute itu semuda ini? Bu Beng mengerti bahwa orang itu ragu-ragu, maka tiba-tiba ia mendapat pikiran untuk menklukkan orang ini tanpa mengadu kepandaian. Ia berkata "Maaf" dan secepat kilat ia loncat menyambar dan tahu-tahu golok yan tertncap di tanah itu telah dicongkel dengn ujung kaki hingga terlempar keatas yang lalu diterima dengan tangan. Kemudian ia mulai bersilat sambil berkata.

"Sebagai sahabat suhengku, tentu Lo-Enghiong kenal permainan ini," lalu diputar-putarnya golok itu dan ia mainkan ilmu golok dari Kim Liong Pai. Golok itu berubah menjadi sinar putih yang lebar dan yang menyelimuti tubuh anak muda itu. Lui Im berdiri ternganga dan tak disengaja mulutnya berkata memuji.

"Bagus, bagus." Setelah Bu Beng berhenti bersilat dan menancapkan kembali golok di tempat tadi, Lui Im menghampirinya dan menepuk-nepuk pundaknya dengan mesra.

"Tidak salah, tidak salah! Kau tentu sute dari Kim Kong, bahkan permainan golokmu lebih hebat dari padanya. Sungguh hebat. Sungguh beruntung kita belum bergebrak, kalau sudah ah tentu aku akan celaka. Ha ha ha!" kemudian ia berpaling kepada Pok Thian Beng yang masih duduk.

"Saudara Pok, matamu sungguh awas dan mengenal barang baik. Kau benar, kita berdua tak usah mencampuri persoalan tetek bengek ini. saudara Sim, pandanglah muka kami berdua dan habiskan saja pertempuran ini. mari, saudara Pok, sudah waktunya bagi kita untuk pergi." Kedua jagoan tua itu, setelah menjuru kearah Bu Beng dengan kata-kata.

"Sampai bertemu lagi," lalu berjalan cepat tinggalkan tempat itu. Melihat bahwa ia sendiri berikut keempat kawannya yang diandalkan itu satu demi satu dibikin takluk oleh Bu Beng. Sim Pangcu menjadi malu sekali. Ia menjuru kearah Lim San yang sejak tadi melihat pertunjukan-pertunjukan itu dengan penuh kekaguman, sambil berkata,

"Saudara Lim, biarlah kali ini aku mengaku kalah." Lim San balas menjuru.

"Sim Pangcu, kau tidak kalah dariku, maka sudahi sajalah urusan ini dan anggap saja bahwa kita tiada jodoh untuk berbesan. Biarlah kita menjadi sahabat baik." Sim Pangcu menggoyang-goyang kepala.

"Bagaimana juga aku sekawan telah dijatuhkan orang, dan aku harus berusaha mencuci bersih noda memalukan ini." Tiba-tiba Bu Beng meloncat kedepannya dan berkata keras dengan suara penuh ejekan.

"Ha ha, Sim Pangcu ternyata bersikap seperti anak kecil. Kalau sikapmu seperti ini, mana pantas kau menjadi seorang Pangcu? Ketahuilah, kau adalah seorang pengecut besar kalai urusan hari ini kau taruh dendam kepada Lim San Lo-Enghiong. Kau hanya tujukan kepada orang yang kiranya tak dapat melawanmu agar kau dapat paksakan nafsu jahatmu. Kalau kau memang seorang gagah, lenyapkan semua urusanmu dengan Lim San Lo-Enghiong. Jika dalam hatimu masih ada dendam mak dendam itu tidak seharusnya ditujukan kepadanya, tapi seharusnya kepadaku, karena akulah orangnya yang telah menjatuhkan kalian."

"Bu Beng! Jangan kau sombing," teriak Sim Pangcu sambil kertak giginya karena marah dan gemas.

"Siapa yang taruh hati dendam kepada Lim Enghiong? Puteraku ditampik adalah soal kecil. Masih banyak gadis lain di dunia ini. dendam hatiku memang ditujukan padamu. Maka ingatlah pada suatu hari aku pasti akan mencarimu dan menagih hutang!" sehabis berkata demikian, Sim Pangcu segera mengambil langkah lebar dengan diikuti Sim Tek Hin yang berjalan dengan tunduk.

Lim San maklum bahwa ucapan sombong yang dikeluarkan oleh Bu Beng itu memang disengaja untuk memindahkan rasa dendam di hati Pangcu itu dari Lim San kepada Bu Beng. Maka makin bertambahlah rasa terima kasihnya kepada pemda itu. Namun Bu Beng tak memberi kesempatan kepda orang untuk menyatakan terima kasih, karena setelah menjuru ia ccepat berkelebat dan bayangannya tak tampak lagi. Lim San sekeluarga hanya dapat menarik napas dalam dan geleng-geleng kepala. Bu Beng secepat terbang kembali ke pondok diatas bukit dan setelah membungkus barang-barangnya yang tak berapa banyak itu di dalam sebuah kain kuning, ia meninggalkan tempat itu dengan bungkusan terikat di punggung untuk melanjutkan perjalanannya merantau setelah berdiam di tempat sunyi itu hampir sebulan lamanya.

Disepanjang jalan tak habis-habisnya Bu Beng melakukan kewajibannya sebagai seorang pendekar, menolong yang lemah tertindas dan membasmi yang kuat sewenang-wenang. Tak heran nama Bu Beng Kiam Hiap makin terkenal, ditakuti lawan diindahkan kawan. Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Bu Beng telah berjalan kaki seorang diri dalam sebuah hutan di kaki bukit Lun ma san. Di kaki bukit Lun ma san terdapat beberapa kampung kecil dengan penduduk terdiri dari kaum petani. Tapi karena bukit itu mengandung tanah kapur, pertanian disitu tidak dapat subur. Maka disamping bertani, penduduk disitu menambah enghasilan dengan menjual hasil hutan dan kapur yang memang banyak terdapat disitu. Di beberapa hutan terdapat kayu besi yang hitam membaja dan banyak isukai oleh orang "orang kota untuk membuat bangunan karena kayu itu kerasnya bagaikan besi saja.

Ketika enak berjalan, tiba-tiba Bu Beng mendengar sura kanak-kanak yang tertawa-tawa dengan riangnya. Suara tawa anak-anak yang wajar ini membuat Bu Beng sadar dari lamunannya, karena sesungguhnya semenjak tadi Bu Beng melamun walaupun kedua kakinya berjalan maju. Ia merasa seakan-akan suara tawa riang dan bening itu merupakan cahaya dan membuatnya gembira sekali. Dengan cepat ia menuju kearah datangnya suara itu. Ternyata olehnya bahwa yang tertawa-tawa gembira adalah dua orang anak laki-laki dan perempuan berusia kurang lebih enam tahun. Mereka sambil tertawa mengejar seekor kelinci yang lari kesana kemari dengan gesitnya. Tapi kedua anak itu lebih gesit, seorang mencegat disana, seorang pula mencegat disini,

Hingga akhirnya binatang berbulu putih itu kelelahan dan hanya mendekam di tengah-tengah sambil terengah engah dan tubuhnya menggil seakan-akan kedinginan. Sepasang telinganya yang panjang bergerak-gerak kebawah keatas dengan lucunya. Bu Beng heran dan kagum melihat gerakan kedua anak itu. Jelas baginya bahwa kedua anak itu mempunyai gerakan yang terlatih dan pasti mereka adalah murid-murid seorang ahli silat yang pandai. Tiba-tiba anak perempuan itu meloncat dan tangannya menyambat. Sambil tertawa girang ia melihatbetapa kelinci itu bergerak-gerak hendak meloloskan diri, tapi percuma karena tangan kecil yang memegang kedua telinganya itu kuat sekali hingga ia hanya dapat menggerak-gerakkan kedua kakinya yang tergantung dan kaki depannya bergerak-gerak seakan-akan orang main silat.

"Cin Lan, lepaskan ia, kasihan. Telinganya tentu sakit kau gantung demikian rupa," tegur anak laki-laki itu.

"Mengapa kasihan? Tampaknya lucu!" jawab anak yang perempuan, "Biar kubawa pulang, kuberikan pada twaci agar dimasak. Hm, alangkah sedapnya nanti."

"Jangan, Cin Lan. Kasihan dia. Aku tak suka daging kelinci. Lihat itu matanya seperti matamu. Sebentar lagi ia menangis." Digoda demikian, si gadis kecil melempar kelinci itu ke tengah gerombolan pohon kecil. Binatang itu segera lari cepat dan menghilang dibawah rumput alang-alang. Anak perempuan itu dengan muka merah menghadapi kakaknya.

"Kau ini bisanya menggoda saja. Awas nanti kuberitahukan Cici agar kau dijewer sampai merah biru telingamu."

"Sudahlah jangan marah. Lebih baik kita berlatih karena kalau Cici datang melihat kita belum latihan, barangkali telinga kita berdua akan dijewer sampai putus. Kau tahu, bagaimana halusnya tangan Cici, kalau sudah menjewer telinga ampun sakitnya bukan main."

"Baiklah, Han ko tapi kau jangan nakal lagi. Mari kita latih pelajaran kemarin. Gerakan jurus keempat masih terasa sukar bagiku."

Semenjak tadi Bu Beng mengintai dari belakang pohon dengan hati gembira. Ia suka sekali kepada kedua anak kecil yang mungil itu. Yang laki-laki cakap berwajah tampan, daun telinganya lebar dan matanya bersinar, tapi bibir dan pandangan matanya memperlihatkan kesabaran dan kebijaksanaan. Terang bahwa kelak anak ini akan menjadi seorang yang mulia dan bijaksana. Anak perempuan yang dipanggil Cin Lan itupun mungil sekali. Wajahnya cantik jelita dengan mata yang lebar, jika ketawa nampak dua lekuk manis di kanan kiri mulutnya. Tapi menurut pandangan Bu Beng, pandangan mata anak perempuan itu ketika marah tampak kejam dan jahat, sungguhpun setelah tertawa lenyaplah sifat itu dan terganti sifat yang halus menyenangkan.

Kini setelah melihat kedua anak itu bertanding main silat terkejutlah Bu Beng. Karena ternyata kedua anak itu mainkan tipu-tipu gerakan dari Kim Liong Pai! Murid siapakah kedua anak ini? Demikian Bu Beng tak habis terheran-heran. Kalau murid dari cabangnya yang mengajar kedua anak itu, mengapa gerakannya demikian kacau? Tipu-tipu gerakan ini walaupun banyak mengambil dari Kim Liong Pai, tapi harus diakui ada bedanya, atau beda dalam variasinya. Karena heran dan ingin sekali tahu, Bu Beng menghampiri mereka. Dua anak itu berhenti main silat dan memandang Bu Beng dengan curiga. Pakaian Bu Beng memang dapat mencurigakan hati kanak-kanak, karena pakaian warna kuning itu sudah bertambal sana sini bahkan di bagian pundak kiri robek belum ditambal hingga nampak kulit pundaknya yang putih dengan tulang pundak menonjol.

"Anak baik, siapakah guru kalian? bagus sekali permainanmu," Tanya Bu Beng ramah. Tapi anak perempuan itu segera mundur dan berbisik kepada kakaknya.

"Han ko, hati-hati, ini tentui sebangsa penjahat seperti yang diceritakan Cici." Bu Beng tertawa geli mendengar ini.

"Eh aku bukan penjahat. Aku suka sekali melihat permainan silatmu tadi. Tapi ada beberapa bagian yang kaku dan salah. Tadi ketika kau mainkan tipu naga mas memburu mustika kaki kirimu salah duduknya, seharusnya agak ditarik serong ke kiri," katanya kepada anak perempuan itu. Kemudian ia berkata kepada anak laki-laki yang memandangnya dengan mata tajam.

"Dan kau, Siauw ko ketika kau menangkis dengan Naga Mas Sabetkan Ekor tadi, tangan kirimu yang menganggur seharusnya dikerjakan untuk balas menyerang dengan tipu Naga Mas Leletkan Lidah karena kedudukan lawanmu kosong bagian pinggang kanan."

"Eh, orang kuarang ajar!" tiba-tiba gadis kecil itu mendamprat, "Kau lancing sekali berani mencela ilmu silat kami yang diturunkan oleh Cici!" Bu Beng ketawa gembira melihat kelincahan dan kegalakan nona cilik itu.

"Oh, jadi kalian diberi pelajaran oleh Cici kalian sendiri?."

"Apa kau berani bilang bahwa twaci kami salah pula dalam memberi pelajaran?" Tanya anak laki-laki itu penasaran.

"Memang salah. Kalau Cicimu yang mengajar, maka ia juga salah."

"Hm, sobong bener kau! twaci mendapat pelajaran dari supek, apakah kalau begitu supek juga slah?" Tanya anak perempuan itu. Bu Beng mengangguk sambil tersenyum.

"kalau memang begini cara mengajarnya, supekmu itu juga salah!"

"Kurang ajar!" gadis kecil itu berteriak marah dan dengan cepat ia layangkan kepalannya yang kecil memukul perut Bu Beng. Bu Beng tertawa gelid an timbul kegembiraannya.

"Baik, baik mari berlatih agar dapat kemajuan." Ia berkelit sambil berkata, "Nah, ini kelitan Naga Mas Putar tubuh." Anak laki-laki ketika melihat adiknya menyerang segera ikut membantu dan sebentar kemudian Bu Beng sikeroyok oleh kedua anak itu. Bu Beng sambil berkelit dengan mulut tersenyum gembira selalu memberi petunjuk. Ia sebutkan kesalahan-kesalahan gerakan anak-anak itu dan sebutkan nama gerakannya sendiri sambil mengelak atau menangkis perlahan. Ternyata kedua anak itu bersemangat besar karena biarpun sudah merasa lelah, namun masih saja mendesak. Disamping menyerang, merekapun perhatikan petunjuk-petunjuk dari Bu Beng dan dasar otak mereka berdua cerdik merekan seakan-akan terbuka mata mereka dan dapat menangkap kesalahan-kesalahan sendiri. Tiba-tiba terdengar seruan nyaring.

"He, orang kasar Dari mana berani mengganggu kedua adikku?"

Mendengar seruan ini Bu Beng meloncat mundur dua kali dan memandang. Ia tertegun dan untuk sejenak seakan-akan napasnya berhenti. Bu Beng bukanlah seorang pemuda yang mudah saja terpesona oleh paras cantik. Tapi ketika matanya memandang gadis berpakaian putih yang berdiri dihadapannya sambil bertolak pinggang dan matanya bercahaya tajam dan marah itu, ia rasakan semangatnya melayang-layang. Wajah dan potongan tubuh gadis itu menarik hatinya benar dan diam-diam ia bandingkan gadis itu dengan gadis yang selalu memenuhi alam mimpinya. Karena sudah berusia lebih dari dua puluh lima tahun, sebagai seorang pemuda yang sehat, sering kali Bu Beng mengenangkan dan mimpikan seorang gadis yang sesuai dan cocok dengan selera hatinya. Dan gadis ini mememnuhi segala-galanya.

Gadis itu berusia paling banyak sembilan belas tahun, tubuhnya ramping padat, sepasang matanya merupakan bintang bercahaya indah, hidungnya mancung mulutnya kecil dengan bibir bagaikan gendewa terpentang dan berwarna merah, rambutnya terurai ke belakang dan diikat dengan kain putih, sebagian rambut terurai kejidat menambah kemanisannya. Baju dan celana putih dari kain kasar dan sepatu putih pula menutupi tubuhnya. Sungguhpun ia berdandan sederhana sekali namun kesederhanaannya ini bahkan menonjolkan kejelitaan yang asli. Karena orang yang ditegurnyaa dari tadi bengong saja sambil memandang bagikan patung hidup, gadis itu merasa malu dan wajahnya menjadi merah. Ia marah sekali melihat kekurang ajaran orang.

"He, bangsat! ada apa kau pandang orang saja dan tak menjawab kata-kataku. Apakah kesalahan kedua adikku ini hingga kau seorang dewasa sampai mengajak mereka berkelahi? Pengecut besar, tidak malu berkelahi dengan anak-anak kecil." Bu Beng makin kagum, karena setelah marah, ternyata wajah itu makin cantik saja. Tapi kata-kata yang pedas itu membuatnya sadar. Segera ia rangkapkan tangan memberi hormat.

"Siocia, maafkan aku seorang perantauan yang tak tahu adapt. Harap jangan salah sangka, kedua adikmu tadi bukan sedang berkelahi dengan aku, tapi kami bertiga hanya sedang main-main dan berlatih saja." Gadis itu memandang adik perempuannya.

"Cin Lan, benarkan kalian tidak berkelahi tadi!" Dengan keringat di sekujur badan dan napas masih terengah-engah, Cin Lan menjebikan bibir kearah Bu Beng dan berkata.

"Siapa yang main-main? Coba Cici lihat, apakah aku kelihatan seperti orang main-main? Keringatku sampai membasahi semua pakaian, dan lihat Han ko itu, ia masih terengah-engah kelelahan! kalau Cici tidak keburu datang memisah, sekarang kami berdua tentu telah dapat menggebuk mampus padanya!"

"Huh!" gadis itu menegur, tapi mau tak mau ia terpaksa bersenyum mendengar kejumawaan adiknya itu.

"Sungguh bukan maksudku mengajak mereka berkelahi nona. Coba kau Tanya Siauw ko ini benar-benarkah kami tadi berkelahi?" Anak laki-laki itu memandang Cicinya dengan matanya yang jujur dan berkata ragu-ragu.

"Aku sendiri tidak tahu, tapi dia ini memberi petunjuk-petunjuk dan membetulkan kesalahan-kesalahan gerakan kami."

"Membetulkan kesalahan gerakanmu?" Cicinya bertanya heran.

"Ya, Ci, bahkan kau sendiri juga dicelanya, juga supek dikatakannya salah mengajar!" kata nona cilik yang nakal itu.

"Apa katamu?" gadis itu memandang marah kepada Bu Beng.

"Ah, bukan begitu maksudku, nona..." membela Bu Beng.

"Jangan banyak cakap. Kalau kau ada kepandaian dan dapat mencela ilmu silatku, cobalah kau terima dan sambut seranganku ini!" Bu Beng hendak membantah, tapi gadis baju putih itu tak memberi kesempatan padanya untuk bicara, langsung maju menyerang secepat kilat.

Pukulannya selain cepat juga berat dan antep sekali hingga Bu Beng buru-buru berkelit. Dalam gerakan-gerakan pertama gadisitu gunakan ilmu silat Kim Liong Pai hingga ia makin heran. Ternyata gadis itu walaupun gerakannya gesit dan tenaganya besar, juga membuat kesalahan-kesalahan dalam gerakannya atau mungkin juga, ilmu silat Kim Liong Pai telah tercampu aduk dengan ilmu silat lain yang tidak kalah lihainya. Menghadapi ilmu silat cabang sendiri, Bu Beng dengan mudah sekali dapat memunahkan setiap serangan. Gadis itu menjadi penasaran dan segera merobah gerakannya. Kini ia menyerang dengan lebih cepat dan tahulah kini Bu Beng bahwa sebenarnya gadis itu mahir sekali ilmu silat Bie jin kun yang gerakan-gerakannya lemas tapi mengandung tenaga dalam yang berbahaya.

Mungkin gadis ini baru sedikit mempelajari ilmu silat Kim Liong Pai dan kepandaian aslinya ialah Bie jin kun itu. Karena dalam hal ilmu silat Bu Beng sudah digembleng oleh gurunya dan ia mempelajari pula segala macam ilmu silat, maka menghadapi serangan-serangan inipun ia hanya tersenyum sambil berkelit dengan gesitnya. Tak pernah ia menangkis atau balas menyerang, seakan-akan hatinya tidak tega melukai gadis itu. Diam-diam ia gembira karena iapun ingin sekali menjajal kepandaian gadis itu. Kini ia mendapat kenyaraan bahwa gadis itu memiliki ilmu silat yang lumayan juga. Gadis baju putih itu ketika menyerang berpuluh jurus tapi belum juga dapat menyentuh ujung baju Bu Beng, dan mendengar sorakan-sorakan adik-adiknya yang memang gemar menonton orang bersilat, dengan dibarengi teriakan-teriakan,

"Pukul, Ci! Robohkan ia! ah, meleset lagi! Sayang, tidak kena lagi, Ci! Hayo pukul roboh!" maka ia menjadi marah dan gemas bukan main. Dengan seruan keras ia cabut sepasang pedangnya yang terselip di punggung dan gunakan siang kiam itu menyerang hebat.!

"Tahan pedangmu, nona. Aku tidak ingin berkelahi," mencegah Bu Beng.

"Hm, kalau dengan kanak-kanak berani ya? Kalau benar-benar laki-laki keluarkan senjatamu." Bu Beng buka kedua lengannya sambil angkat pundak.

"Aku tidak ingin berkelahi nona."

"Jangan banyak cakap. Kalau kau tidak mau melayaniku maka kau akan kuanggap laki-laki pengecut." Bu Beng tersenyum.

"Kau memaksa nona. Apa boleh buat aku bukan pengecut. Majulah!" gadis itu segera buka serangannya dengan gerakan Burung Kepinis Menyambar Ikan. Pedang kanannya menusuk kearah tenggorokan Bu Beng sedangkan pedang kiri terputar mengancam untuk membingungkan lawan. Tapi Bu Beng ganda tertawa saja, dan loncat berkelit. Gadis itu merangsek maju dengan hati panas, dan Bu Beng terpaksa gunakan ilmu ginkangnya yang hebat untuk melayaninya dengan tangan kosong.

Pemuda itu mengandalkan keringan tubuh dan kegesitan gerakannya untuk meloloskan diri dari bayangan pedang. Sebenarnya permainan siang kiam gadis itu hebat dan telengas sekali. Kalau bukan Bu Beng, jangankan bertangan kosong biar bersenjatapun, tidak sembrangan orang dapat menangkan gadis itu. Tapi kali ini ia bertemu dengan Bu Beng Kiam Hiap yang tingkatnya masih jauh diatasnya, maka dengan mudah saja ia dipermainkan. Pada saat itu dari jauh datang berlari seorang wanita tua yang membawa tongkat. Tindakan kakinya ringan dan larinya cepat sekali hingga diam-diam Bu Beng terkejut. Ia melihat orang tua itu duduk diatas sebuah akar pohon di dekat mereka dan diam saja menonton perkelahian itu. Gadis yang menyerangnya dengan sengit itu agaknya tak melihat kedatangan orang tua itu karena gerakannya memang ringan sekali.

Tapi kedua anak kecil itu ketika melihat perempuan tua bertongkat tahu-tahu duduk disitu segera lari menghampiri dan memeluknya. Hati Bu Beng bimbang juga. Ternyata perempuan tua yang berkepandaian tinggi itu masih keluarga mereka. Ah, ia harus menyimpan tenaga untuk menghadapinya jika hal itu terjadi nanti. Pada saat ia berpikir demikian, tiba-tiba gadis baju putih itu menggerakkan kedua pedangnya menusuk dada dengan tipu Wanita Cantik Tawarkan Arak. Sepasang pedangnya yang meluncur ke dada Bu Beng, sebuah ditusukkan dan yang satu lagi dibacokkan kebawah.! Menghadapi serangan ini, Bu Beng berlaku cepat. Tubuhnya berkelit kesamping dan sekali menggerakkan tangan kearah pergelangan gadis itu, sekejap kemudian pedang kanan gadis itu pindah tangan.!

"Bagus, bagus!" terdengan wanita tua itu memuji. Tapi gadis itu menjadi penasaran sekali. Dengan nekat ia gunakan sebilah pedangnya untuk menyerang kembali. Bu Beng menggunakan pedang yang dirampasnya untuk menangkis dengan main mundur. Tiba-tiba sebuah sinar hitam menyela diantara mereka dengan membawa angin keras dibarengi bentakan orang.

"Cin Eng, mundurlah. Seharusnya kau tahu diri dan tidak berlaku nekat!" mendengar bentakan ini, gadis itu berloncat mundur dan berdiri dengan tunduk dan wajah merah. Melihat keadaannya itu, timbul rasa iba di hati Bu Beng, maka segera ia maju menghampiri dan memberi hormat, lalu sambil mengangsurkan pedang yang dirampasnya kepada pemiliknya, ia berkata halus,

"Nona, maafkan aku yang rendah telah berlaku kurang ajar. Terimalah pedangmu kembali, nona." Cin Eng mengangkat kepala memandangnya, tapi ia tertunduk kembali dengan muka merah dan mulut cemberut.

"Ha, ha!" wanita tua itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Cin Eng, orang telah berlaku mengalah dan baik kepadamu, hayo terima kembali pedangmu!" dan gadis itu kembali mentaati perintah itu dan terima kembali pedangnya dari tangan Bu Beng tanpa berani memandang pemuda itu.

"Anak muda, kau gagah juga dan kepandaianmu lumayan. Majulah dancoba kau tahan tongkatku yang lapuk ini." Bu Beng menjuru hormat.

"Aku yang muda mana berani berlaku tidak sopan."

"Hm, jangan sungkan-sungkan, anak muda. Dengan mudah kau dapat mengalahkan puteriku. Maka, mau tak mau kau harus melayani aku yang tua ini beberapa jurus. Aku hanya ingin mengukur dalamnya kepandaianmu, jangan kau takut. Aku takkan berlaku kejam padamu." Panas juga hati Bu Beng karena terang sekali orang memandang ringan kepadanya, bahkan ia disangka takut! Maka ia majukan kaki selangkah dan setelah berkata,

"Maaf," ia cabut pedang pendeknya yang disembunyikan di belakang punggung dalam bajunya. Pedang pendek ini bukanlah pedang sembarangan. Ia dapat merampasnya dari seorang kepala perampok kenamaan setelah mengadu jiwa mati-matian. Pedang ini disebut Hwee hong kiam dan tajamnya luar biasa serta terbuat daripada logam yang jarang terdapat dank eras melebihi baja tulen. Kalau tidak terpakasa, jarang sekali Bu Beng keluarkan senjata ini. tapi kali ini ia tahu bahwa wanita tua ini bukanlah orang sembarangan dan bahwa tongkatnya itu tentu lihai sekali.

"Ha, bagus! Nah sambutlah tongkatku!" wanita tua itu tak sungkan lagi maju menyerang. Tongkatnya yang berwarna hitam menyambar berat mendatangkan angin dingin. Bu Beng gunakan pedangnya menangkis dan merasa betapa berat tenaga dalam wanita tua itu. Namun wanita itupun diam-diam terkejut karena anak muda itu ternyata bertenaga tidak lebih bawah darinya. Wanita itu gunakan tipu-tipu ilmu toya Siauw lim si yang hebat dicampur dengan gerakan ilmu golok Kun lun. Biarpun ia mempunyai ilmu silat yang hebat sekali dan pengalamannya yang berpuluh tahun itu mebuat gerakannya tetap dan kuat, namun baru bergebrak beberapa jurus saja ia merasa heran dan kaget. Karena ilmu pedang Bu Beng sangat membingungkannya.

Bu Beng keluarkan tipu-tipu Kim Liong Pai yang sudah dikombinasikan sedemikian rupa dengan tipu-tipu Hoa San Pai hingga merupakan gerakan-gerakan tersendiri yang sangat lihai dan tak terduga datangnya! Tak heran bahwa sebentar saja perempuan itu terdesak dan hanya dapat menangkis saja. Pada suatu desakan, Bu Beng menggunkan pedang pndeknya menusuk dada lawan. Tusukan ini cepat sekali, tapi biarpun terdesak, nenek itu masih dapat memutar tongkatnya menangkis pedang yang ujungnya sudah hampir mengenai kulitnya itu. Tak tersangka-sangka Bu Beng cepat sekali merobah arah pedangnya ke kiri dan membabat lengan lawan! Nenek itu menjerit kaget dan menggunakan jaln satu-satunya yang masih mungkin ia lakukan, yakni melepaskan tongkat dan menggelinding pergi sejauh dua tombak lebih. Bu Beng rangkapkan kedua tangan.

"Maaf, maaf." Nenek itu berdiri cepat dengan muka pucat. Ia belum bebas sama sekali dari rasa terkejut. Tiba-tiba wajahnya berubah girang dan dengan terkekeh-kekeh ia jemput tongkatnya lalu menghampiri Bu Beng.

"Anak muda, kau sungguh gagah perkasa. Ketahuilah, aku adalah Hun Gwat Go yang disebut orang si Tongkat Terbang. Tapi sekarang aku sudah tua hingga tak pandai memainkan tongkat lagi, buktinya dengan begitu saja aku terpaksa melepaskan tongkatku. Hi, hi hi!" Bu Beng tak senang mendengar suara tertawa terkekeh-kekeh ini, tapi karena orang berkata dengan ramah, ia terpaksa tersenyum juga.

"Dan ini adalah Cin Eng, anakku. Kedua anak kecil itu Cin Land an Cin Hai. Dan kau sendiri siapakah anak muda?"

"Saya bernama Bu Beng." Kedua anak kecil itu tertawa mendengar nama Tak Benama ini dan nenek sendiri memandang heran. Tapi karena Bu Beng memandangnya dengan wajah bersungguh-sungguh dan sinar matanya menyambar tajam, ia tak berani bertanya lagi.

"Bu Beng Taihiap, kami persilakan mampir dipondok kami," katanya kemudian, "Perkenalan ini harus kita pererat. Sudah lama aku ingin berjumpa dengan seorang hohan di jaman ini. dan kebetulan ini hari berjumpa dengan kau yang pantas sekali kami hormati." Sebenarnya Bu Beng tidak suka mampir, tapi demi melihat kearah Cin Eng yang menggunakan mata burung hongnya memandang dengan tajam padanya, ia menyanggupi dan beramai-ramai mereka menuju ke rumah nenek itu yang berada di sebelah kampung tak jauh dari situ. Ketika mereka memasuki sebuah rumah pondok besar tapi yang keadaanya miskin, si nenek berkata kedalam rumah.

"Tianglo silakan keluar, ini ada tamu agung datang!" Bu Beng memandang ke pintu tengah dengan tajam dan waspada. Ia tetap belum percaya kepada nenek aneh ini dan siap menghadapi lain lawan. Tapi ketika tampak tubuh seorang pendeta yang tinggi kurus keluar dari pintu itu, ia segera meloncat menghampiri dan memberi hormat.

"Suheng!" katanya heran dan gembira.

"Eh, eh, kau sute? Pantas saja ada orang yang dengan mudah dapat mengetahui kesalahan-kesalahan Cin Lan dan Cin Han, tak tahu kaulah orangnya!"

"Bagaimana suheng dapat tahu?" Kim Kong Tianglo tertawa lebar.

"Kau sangka aku tidak tahu juga bagaimana kau berhasil membuat Hun toanio lepaskan tongkatnya?" Karena semua pendengarnya merasa heran, Kim Kong Tianglo bercerita bahwa tadi karena khawatir akan keselamatan tuan rumahnya yang lama tidak kembali, ia menyusul ke hutan dan sembunyi sambil menonton pertempuran-pertempuran itu. Hun Gwat Go tertawa dengan suara terkekeh-kekeh yang tak disuka oleh Bu Beng itu, lalu berkata.

"Ha, ha, kukira siapa, tidak tahunya orang sendiri. Jadi Bu Beng Taihiap ini sutemu sendiri? Ah, aku makin tidak penasaran telah jatuh dalam tangannya." Kemudian nenek yang aneh itu setelah perinthkan Cin Eng keluarkan areak, meninggalkan kedua saudara seperguruan itu di ruang tamu. Setelah berada berdua saja. Bu Beng melampiaskan rasa kangennya dan memeluk suhengnya. Ia memang menganggap suhengnya ini sebagai kakak sendiri. Mereka berbicara asyik sekali dan saling menuturkan pengalaman semenjak berpisah. Kemudian Bu Beng bertanya mengapa Kim Kong Tianglo dapat tinggal di rumah nenek itu.

Kim Kong Tianglo menarik napas dalam dan menuturkan pengalamannya dan keadaaan yang aneh itu. Menurut cerita Kim Kong Tianglo, nenek itu bernama Hun Gwat Go berasal dari Kilam. Sebelum kawin, ia adalah seorang puteri seorang bajak laut yang terkenal kejam. Agaknya adat ayahnya menurun, karena Hun Gwat Go juga beradat jelek sekali, tapi ia sangat cantik hingga menarik banyak rasa cinta pemuda. Diantaranya terdapat seorang pendkar yang menjalankan tugas menolong sesamanya dengan cara menjadi pencuri budiman. Ia bernama Liu Pa San. Rumah hartawan-hartawan kikir dan pembesar-pembesar jahat ia santroni dan banyak harta haram ia curi untuk kemudian dibagi-bagikan kepada petani miskin. Karena ia berkepandaian tinggi dan cakap juga, maka pilihan Gwat Go jatuh padanya.

Sebenarnya ketika kawin dengan Gwat Go, Lui Pa San telah menjadi duda dengan seorang perempuan, karena belum lama istrinya meninggal dunia karena sakit. Anak perempuannya itu ialah Cin Eng yang tadi dikagumi oleh Bu Beng. Dengan Gwat Go. Liu Pa San setelah kawin puluhan tahun, barulah mempunyai anak, seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, yakni Cin Han dan Cin Lan. Cin Eng mendapat didikan ilmu silat dari ayahnya, dan biarpun adatnya buruk, namun Gwat Go tidak merupakan seorang ibu tiri yang kejam. Ia sayang Cin Eng seperti anak sendiri, hanya adatnya yang kasar dank eras membuat gadis itu takut padanya. Bahkan ibu tiri inipun mendidik Cin Eng mempunyai kepandaian yang lihai juga. Kim Kong Tianglo kenal baik dengan Liu Pa San. Beberapa bulan yang lalu, ketika Kim Kong Tianglo sedang merantau di kota Hiebun,

Pada suatu malam ia mendengar suara ribut-ribut diatas genteng tikoan di kota itu. Ia segera loncat keatas dan melihat betapa Liu Pa San dikeroyok beberapa orang jagoan yang sengaja diundang oleh tikoan itu untuk menjaga harta bendanya. Ternyata diantara jagoan-jagoan terdapat Ngo Houw atau lima hariamau dari Tiang-San yang terkenal kosen. Ketika Kim Kong Tianglo tiba di tempat pertempuran. Liu Pa San telah terluka hebat tapi masih melakukan perlawanan dengan gigih. Kim Kong Tianglo berhasil menologn dan membawanya pergi. Tapi malam hari itu juga Liu Pa San si maling budiman menghembuskan napas terakhir dihadapan Kim Kong Tianglo. Hwesio ini terharu sekali karena ia tahu benar akan sepak terjang dan kebaikan hati maling perkasa itu. Sebelum mati, Liu Pa San meninggalkan permohonan kepadanya untuk mendidik ilmu silat kepada anak-anaknya.

bersambung ke jilid 3